Keuangan.id – 28 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan utama pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Setelah penurunan 3,38% pada penutupan Jumat lalu, IHSG diprediksi akan menguji level support di kisaran 7.000‑7.080 dan menghadapi resistance antara 7.200‑7.250. Sentimen global, terutama kebijakan moneter Federal Reserve dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menambah ketidakpastian pergerakan indeks.
Teknikal IHSG dan Proyeksi Singkat
Analisis teknikal BNI Sekuritas menilai IHSG berada pada zona rebound singkat menuju 7.250, namun potensi koreksi kembali ke level 7.000 tetap kuat. Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menyoroti level support terdekat di 6.917 dan resistance di 7.335, mengingat pergerakan mingguan yang menunjukkan penurunan 6,61%. Pada awal pekan, IHSG diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang 7.022‑7.115, dengan tekanan jual asing yang masih terasa.
Arus Dana Asing dan Dampaknya
Data dari Phillip Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa pada hari Senin investor asing mengalirkan dana keluar bersih sebesar Rp 2 triliun. Sekitar Rp 896 miliar keluar dari saham Bank Central Asia (BBCA), diikuti BMRI dengan Rp 679 miliar. Sektor perbankan besar menjadi fokus utama penjualan, sementara beberapa saham energi seperti Medco Energi (MEDC) mencatat net buy sebesar Rp 86 miliar. Total akumulasi aliran keluar YTD mencapai Rp 41,50 triliun, menandakan tekanan likuiditas yang signifikan.
Rekomendasi Saham untuk Saham Hari Ini
Berangkat dari catatan BNI Sekuritas, enam saham dipilih sebagai kandidat unggulan untuk perdagangan hari ini:
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) – sektor logistik dengan fundamental kuat.
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) – perusahaan konstruksi yang diproyeksikan akan mendapat manfaat dari stimulus infrastruktur.
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) – pemain utama di industri petrokimia.
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) – fokus pada layanan digital dan infrastruktur jaringan.
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – produsen bahan kimia dasar dengan margin stabil.
- PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) – perusahaan transportasi laut yang menargetkan pertumbuhan ekspor.
Strategi “Spec Buy” ini menekankan posisi beli pada level support masing‑masing saham, dengan target kenaikan jangka pendek. Meskipun pasar menunjukkan tekanan jual, sektor-sektor tersebut tetap memiliki prospek fundamental yang mendukung.
Data Perdagangan dan Saham Paling Aktif
Menurut IDX Mobile, volume perdagangan mencapai 30,53 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 16,55 triliun. Dari total 959 emiten, 423 saham menguat, 286 melemah, dan 250 stagnan. Daftar top gainers hari ini meliputi JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, DEFI, SMMT, RODA, dan BAPA. Sementara itu, top losers mencakup HOPE, BABY, KDTN, BRNA, ENRG, UDNG, CMNP, serta MSIE.
Faktor Global yang Mempengaruhi Pasar Lokal
Investor memperhatikan dua katalis utama: keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang diperkirakan tetap pada 3,75% dan data manufaktur China yang dapat memengaruhi permintaan komoditas. Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz serta potensi eskalasi antara AS dan Iran menambah volatilitas harga energi, yang pada gilirannya dapat memperlambat penurunan inflasi global.
Prospek Jangka Pendek dan Rekomendasi Praktis
Dengan IHSG berada di zona support‑resistance yang ketat, strategi yang disarankan meliputi:
- Memantau pergerakan rupiah terhadap dolar; pelemahan lebih lanjut dapat memicu aksi jual pada saham import‑intensif.
- Mengikuti rilis data ekonomi utama AS pada akhir pekan, termasuk CPI, PCE, dan PMI manufaktur.
- Menjaga eksposur pada saham dengan fundamental kuat seperti CUAN, DEWA, dan HRTA, sambil menyiapkan stop loss di sekitar level support teknikal masing‑masing.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia masih berada dalam fase koreksi, namun terdapat peluang bagi investor yang selektif untuk memanfaatkan rebound singkat pada saham‑saham pilihan.
Dengan mempertimbangkan aliran dana asing, level teknikal IHSG, serta rekomendasi saham yang telah disaring, investor dapat menyesuaikan portofolio untuk menghadapi volatilitas jangka pendek sambil menunggu kejelasan kebijakan moneter global.











