Rupiah Sentuh Level Terlemah Sejak 1998, Penyebab Utama Mengguncang Pasar

Rupiah Sentuh Level Terlemah Sejak 1998, Penyebab Utama Mengguncang Pasar
Rupiah Sentuh Level Terlemah Sejak 1998, Penyebab Utama Mengguncang Pasar

Keuangan.id – 09 April 2026 | Nilai tukar rupiah hari ini turun ke titik terendah sejak krisis moneter 1998, menandai tekanan berat pada mata uang nasional. Pergerakan ini terjadi di tengah situasi makroekonomi global yang tidak bersahabat, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar domestik.

Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada pelemahan tersebut antara lain:

  • Kenaikan tajam harga minyak dunia: Harga minyak mentah melampaui US$100 per barel, menambah beban impor energi bagi Indonesia.
  • Konflik geopolitik: Ketegangan antara Rusia dan Ukraina serta ketidakpastian di Timur Tengah meningkatkan sentimen risiko dan menyebabkan arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
  • Kebijakan moneter Amerika Serikat: Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi, memperkuat dolar AS dan menurunkan daya tarik aset berdenominasi rupiah.
  • Penurunan harga komoditas ekspor: Harga tembaga, kelapa sawit, dan batu bara mengalami penurunan, mengurangi pendapatan devisa.
  • Sentimen pasar global yang risk-off: Investor mengalihkan dana ke aset safe‑haven seperti dolar dan obligasi pemerintah AS.

Berikut ini gambaran pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir dibandingkan dengan level terendah 1998:

Bulan Kurs (IDR/USD) Perubahan % YoY
Januari 2024 15.250 +12,5%
Februari 2024 15.480 +14,2%
Maret 2024 15.720 +15,8%
April 2024 15.950 +16,7%

Bank Indonesia (BI) telah menanggapi situasi ini dengan meningkatkan intervensi pasar valuta asing dan menyiapkan kebijakan likuiditas tambahan. Namun, para analis memperingatkan bahwa perbaikan nilai tukar rupiah akan sangat bergantung pada peredaran harga minyak, penyelesaian konflik internasional, serta arah kebijakan moneter global.

Secara jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Investor disarankan untuk memantau indikator eksternal seperti harga minyak, indeks dolar, dan perkembangan diplomatik, sekaligus memperhatikan kebijakan domestik seperti suku bunga BI dan langkah penstabilan pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *