Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Jakarta – Pada sesi perdagangan Rabu, 11 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan penguatan terbatas di tengah penurunan harga minyak dunia. Rupiah dibuka pada level Rp16.851 per dolar, naik 12 poin atau 0,07% dibanding penutupan sebelumnya Rp16.863.
Pergerakan Kurs Hari Ini
| Waktu | Kurs Rupiah (per USD) | Perubahan |
|---|---|---|
| 09:10 WIB | Rp16.851 | +12 poin (+0,07%) |
| Penutupan Selasa (10/3) | Rp16.864 | +0,50% (85 bps) |
Data Bloomberg menunjukkan bahwa indeks dolar AS mengalami koreksi sebesar 0,68% ke posisi 98,50, memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat. Penguatan paling signifikan di antara negara tetangga dicatat oleh peso Filipina (+0,96%) dan ringgit Malaysia (+0,90%).
Faktor Penguat
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, penguatan rupiah dipicu oleh optimisme “risk‑on” yang muncul setelah harga minyak dunia turun. Harga Brent tercatat US$87,6 per barel dan WTI US$84,2 per barel, menurun drastis dari puncak lebih US$119 per barel pada Senin, 9 Maret, ketika ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga.
- Penurunan harga minyak mengurangi beban impor energi bagi Indonesia.
- Pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang kemungkinan akhir konflik di Selat Hormuz menambah sentimen positif.
- Data penjualan ritel domestik yang lebih kuat dari perkiraan mendukung penguatan rupiah.
Risiko dan Tantangan
Meski terdapat faktor penguat, analis memperingatkan bahwa sentimen bisa berbalik bila konflik Timur Tengah kembali memanas. Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi tekanan utama bagi nilai tukar. Selain itu, tidak ada data ekonomi penting yang dijadwalkan pada malam ini atau besok, sehingga pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa meskipun pasar global menunjukkan tren positif, volatilitas masih tinggi karena perkembangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan tetap waspada terhadap perubahan cepat dalam dinamika harga minyak dan kebijakan luar negeri.
Secara keseluruhan, rupiah diprediksi akan beroperasi dalam kisaran Rp16.800‑Rp16.950 per dolar AS selama sesi perdagangan hari ini. Penguatan terbatas ini mencerminkan kombinasi antara penurunan harga komoditas, sentimen risiko, serta data domestik yang mendukung.
Dengan fondasi ekonomi Indonesia yang tetap kuat, para analis menilai bahwa meskipun rupiah berada di level yang “mepet” mendekati Rp17.000, tekanan jangka pendek dapat dikelola asalkan tidak ada guncangan eksternal yang signifikan.











