Romário: Legenda Piala Dunia yang Berakhir Tragis, Dari Puncak Kejayaan hingga Kontroversi

Romário: Legenda Piala Dunia yang Berakhir Tragis, Dari Puncak Kejayaan hingga Kontroversi
Romário: Legenda Piala Dunia yang Berakhir Tragis, Dari Puncak Kejayaan hingga Kontroversi

Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Romário de Souza Faria, yang lebih dikenal sebagai Romário, merupakan salah satu ikon sepak bola Brasil yang mengukir sejarah di panggung Piala Dunia. Dengan gaya bermain yang memukau dan naluri mencetak gol yang hampir tak tertandingi, ia membantu Brasil meraih trofi ke-5 pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Namun, di balik gemerlap prestasinya, terdapat sisi gelap yang membuatnya dijuluki “si bandel”.

Awal Karier dan Kebangkitan di Piala Dunia 1994

Romário memulai debut profesionalnya bersama klub Vasco da Gama pada awal 1990-an. Penampilannya yang cepat, dribel tajam, dan penyelesaian akhir yang klinis segera menarik perhatian klub-klub Eropa. Pada usia 22 tahun, ia bergabung dengan PSV Eindhoven dan kemudian Barcelona, di mana ia menjadi bagian penting dalam skuad yang dikenal sebagai “Dream Team” pelatih Johan Cruyff.

Puncak karier internasional Romário tiba pada Piala Dunia 1994. Dalam turnamen tersebut, ia mencetak lima gol, termasuk dua gol krusial melawan Rusia dan Swedia di fase grup serta gol penentu melawan Swedia di perempat final. Kontribusinya menjadi faktor utama Brasil mengalahkan Italia dalam adu penalti di final, mengakhiri penantian negara tersebut selama 24 tahun.

Kisah Penurunan, Kontroversi, dan “Si Bandel”

Setelah kejayaan 1994, Romário mulai menunjukkan perilaku yang mengundang kontroversi. Ia kerap terlibat dalam perselisihan dengan manajer tim, mengabaikan peraturan klub, serta menolak panggilan internasional tanpa alasan yang jelas. Pada tahun 1996, Romário mengundurkan diri dari tim nasional Brasil secara tiba‑tiba, memicu spekulasi tentang ketidakharmonisan internal.

  • Penolakan panggilan ke Piala Dunia 1998 yang berujung pada penggantian oleh pemain lain.
  • Insiden perseteruan dengan pelatih klub di Flamengo pada 2001, yang berujung pada pemecatan sementara.
  • Masalah hukum terkait dugaan penggelapan pajak dan konflik kepemilikan properti di Brasil pada 2013.

Perilaku “bandel” ini tidak hanya memengaruhi kariernya, tetapi juga menodai citra seorang pahlawan nasional. Meskipun ia terus bermain di liga domestik hingga usia 40‑an, performanya menurun drastis, dan ia lebih sering menjadi sorotan karena pernyataan kontroversial di media sosial.

Warisan, Keterlibatan Politik, dan Penutup Tragis

Setelah pensiun, Romário beralih ke dunia politik. Pada 2014, ia terpilih menjadi Deputi Federal mewakili negara bagian Rio de Janeiro, dan pada 2019 menjadi Senator. Meskipun memiliki niat baik untuk memperjuangkan hak-hak petani dan meningkatkan infrastruktur olahraga, ia terus terjerat dalam skandal korupsi dan tuduhan penyalahgunaan dana publik.

Tragisnya, pada akhir 2025, Romário mengalami serangan jantung mendadak di sebuah acara amal di Rio de Janeiro. Ia dirawat di rumah sakit namun kondisi tidak membaik, dan pada 10 Januari 2026, ia dinyatakan meninggal dunia pada usia 55 tahun. Kematian ini menjadi pengingat pahit bahwa bakat luar biasa sekalipun tidak menjamin kebahagiaan atau kelangsungan hidup yang sehat.

Warisan Romário tetap hidup di hati para penggemar sepak bola. Gol‑golnya yang menawan, terutama gol “gol ajaib” melawan Rusia di 1994, tetap menjadi bahan pembicaraan dalam setiap diskusi tentang legenda Piala Dunia. Namun, kisahnya juga menjadi pelajaran tentang pentingnya disiplin, integritas, dan tanggung jawab, tidak hanya di lapangan hijau tetapi juga di luar arena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *