Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Rayan Cherki, gelandang berusia 22 tahun yang baru bergabung dengan Manchester City pada bursa transfer musim panas 2025, kembali menjadi sorotan media sepakbola setelah aksi showboatingnya di final Carabao Cup menimbulkan reaksi keras dari figur-figur berpengalaman. Mantan pemain Manchester City, Gareth Barry, secara tegas menegur Cherki, menekankan bahwa gaya bermain atraktif hanya dapat diterima bila pemain menunjukkan konsistensi pada level tertinggi, serupa dengan standar yang dipenuhi Lionel Messi selama kariernya.
Musim debut Cherki bersama City tercatat impresif. Ia menyumbang 23 gol dan assist di semua kompetisi, membantu tim meraih gelar Liga Premier dan Carabao Cup. Statistik tersebut menempatkannya di antara pemain muda paling produktif di Premier League, dengan rata‑rata kontribusi gol per pertandingan mencapai 0,56.
- Penampilan: 41 pertandingan (all‑competitions)
- Gol: 15
- Assist: 8
- Kontribusi gol per pertandingan: 0,56
Namun, aksi juggling bola di pertengahan babak kedua final Carabao Cup melanggar ekspektasi pelatih dan penonton. Rekan sekelas Manchester United, Gary Neville, menyebutnya “sikap arogan”, sementara mantan manajer Premier League, Alan Pardew, menggoloknya sebagai “penghinaan terhadap permainan profesional”. Bahkan Pep Guardiola, pelatih City, tampak tidak puas; kamera menyorotnya menggelengkan kepala di pinggir lapangan, menandakan ketidaksetujuan terhadap perilaku tersebut.
Gareth Barry, yang pernah bermain empat musim bersama City, berbicara eksklusif kepada Sports Mole, menegaskan bahwa pemain kreatif seperti Cherki memang menghibur, tetapi harus “memenuhi standar tinggi” yang ditetapkan oleh manajer. “Jika seorang pemain tidak dapat menampilkan performa konsisten pada level tertinggi, aksi‑aksi seperti itu tidak akan diterima dalam sepakbola modern,” ujarnya. Barry menambahkan contoh Lionel Messi sebagai tolok ukur: “Messi dapat melakukan showboating karena ia selalu tampil luar biasa, musim demi musim.” Ia menilai Cherki masih memiliki peluang untuk berekspresi, asalkan ia mempertahankan atau bahkan meningkatkan performa musim ini.
Perbandingan dengan Messi menjadi topik hangat di antara para analis. Cherki sendiri pernah menyebut Messi sebagai contoh ideal, mengakui bahwa konsistensi adalah kunci. “Pep Guardiola pernah melatih Messi. Ia tidak suka melihat pemain melakukan showboating jika mereka belum mencapai level tersebut,” kata Barry, mengutip pandangan pelatih City.
Di luar kritik, Barry menolak anggapan bahwa Premier League kini terlalu “robotik” dan kehilangan unsur hiburan. Menurutnya, masih banyak klub seperti Newcastle United dan Bournemouth yang menampilkan gaya permainan menghibur. “Premier League tetap menjadi salah satu liga terbaik untuk ditonton,” tegasnya.
Reaksi pemain lain juga menguatkan tekanan pada Cherki. Pada laga perempat final Piala FA melawan Liverpool, Cherki terlibat duel sengit dengan Ryan Gravenberch, menunjukkan intensitas dan dedikasi yang tinggi. Namun, sorotan tetap tertuju pada kebiasaan menampilkan aksi-aksi berlebihan di lapangan.
Ke depan, ekspektasi bagi Cherki tidak hanya terbatas pada kontribusi gol, melainkan pada etos kerja, disiplin taktis, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan filosofi Guardiola. Jika berhasil menyeimbangkan kreativitas dengan konsistensi, Cherki dapat menjadi aset berharga bagi City dalam perebutan gelar domestik maupun kompetisi Eropa.
Kesimpulannya, Rayan Cherki berada di persimpangan penting dalam kariernya. Potensi teknisnya tak diragukan, namun tekanan untuk menurunkan standar Messi menuntutnya meningkatkan performa secara konsisten. Bagaimana ia menanggapi peringatan Gareth Barry dan ekspektasi pelatih akan menjadi faktor penentu apakah ia akan terus menjadi sorotan atau beralih menjadi pemain biasa di panggung elit Premier League.











