Keuangan.id – 04 April 2026 | Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Atase Perdagangan (Atdag) di Den Haag meluncurkan inisiatif khusus untuk memperluas ekspor rempah dan bumbu ke pasar Belanda. Langkah ini merupakan respons terhadap meningkatnya minat konsumen Eropa terhadap bahan makanan alami, sehat, dan beraroma khas Asia.
Rempah-rempah Indonesia seperti kunyit, jahe, kayu manis, lada, dan cabai memiliki reputasi global karena kualitasnya yang tinggi. Belanda, sebagai salah satu pusat distribusi barang makanan di Eropa, menawarkan peluang besar bagi produsen Indonesia untuk menembus rantai pasokan regional.
Berikut beberapa faktor utama yang mendasari strategi ini:
- Permintaan pasar: Survei konsumen Belanda menunjukkan peningkatan konsumsi produk organik dan bumbu alami sebesar 15% per tahun.
- Dukungan pemerintah: Atdag menyediakan platform business matching daring, membantu produsen menemukan mitra distribusi, importir, dan retailer.
- Standar kualitas: Pemerintah menekankan sertifikasi halal, organik, dan keamanan pangan untuk memenuhi regulasi Uni Eropa.
Proses business matching daring meliputi empat tahap utama:
- Pendaftaran produsen pada portal resmi Kementerian Perdagangan.
- Verifikasi dokumen produk dan sertifikasi yang relevan.
- Pertemuan virtual dengan calon pembeli atau importir Belanda.
- Negosiasi harga, volume, dan logistik pengiriman.
Data perkiraan potensi ekspor rempah Indonesia ke Belanda dapat dilihat pada tabel berikut:
| Rempah | Potensi Ekspor (ton) |
|---|---|
| Kunyit | 1.200 |
| Jahe | 950 |
| Kayu Manis | 780 |
| Lada Hitam | 1.050 |
| Cabai Merah | 1.300 |
Dengan dukungan institusional dan akses langsung ke jaringan pembeli Belanda, diharapkan nilai ekspor rempah Indonesia ke Eropa meningkat setidaknya 20% dalam dua tahun ke depan. Peluang ini tidak hanya menguntungkan produsen, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok rempah utama dunia.











