Keuangan.id – 27 April 2026 | Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik yang baru terpilih, kembali menggemparkan dunia politik internasional dengan serangkaian pernyataan tajam mengenai perang, penggunaan energi nuklir, dan eksploitasi sumber daya bumi.
Dalam sebuah pidato yang disiarkan secara global pada 27 April 2026, bertepatan dengan peringatan keempat puluh tahun bencana nuklir Chernobyl, Paus Leo XIV menuduh para pemimpin yang memicu konflik bersenjata dan menguras sumber daya alam sebagai “pencuri masa depan”. Ia menegaskan bahwa tragedi Chernobyl meninggalkan luka mendalam dalam kesadaran umat manusia dan menjadi peringatan penting atas bahaya teknologi yang tidak terkendali.
Seruan Perdamaian dan Penolakan Nuklir
Paus menekankan bahwa energi nuklir, bila dipergunakan untuk tujuan damai, dapat menjadi sarana kemajuan manusia. Namun, ia memperingatkan bahwa penyalahgunaan teknologi tersebut dapat menimbulkan kehancuran yang tak terbayangkan. “Saya berharap pada setiap tingkat pengambilan keputusan, kebijaksanaan dan tanggung jawab selalu diutamakan, sehingga energi nuklir dapat mendukung kehidupan dan perdamaian,” ujarnya.
Selain ancaman nuklir, Paus Leo XIV juga mengkritik gaya hidup konsumtif yang ia nilai mempercepat degradasi lingkungan. “Jangan lupa para pencuri yang, dengan merampas sumber daya bumi, berperang berdarah, atau menyebarkan kejahatan, telah merampas kesempatan kita untuk masa depan yang damai,” tegasnya.
Konflik Timur Tengah dan Panggilan untuk Dialog
Pernyataan Paus tidak lepas dari konteks ketegangan militer di Timur Tengah. Amerika Serikat baru-baru ini mengerahkan tiga kapal induk—USS George H.W. Bush, USS Gerald R. Ford, dan USS Abraham Lincoln—bersama ribuan pasukan ke perairan Samudra Hindia dan Laut Merah. Eskalasi tersebut menambah kekhawatiran akan terulangnya bencana serupa Chernobyl akibat konflik bersenjata.
Dalam responsnya, Paus Leo XIV menyerukan agar Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan. “Mendesak Teheran dan Washington untuk melanjutkan negosiasi,” kata Paus, mengutip pernyataannya yang disiarkan oleh Sky News pada 24 April 2026. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan yang menyebabkan hilangnya nyawa secara tidak adil harus dikutuk oleh dunia internasional.
Pandangan Paus tentang Kepemimpinan Global
Paus Leo XIV menilai bahwa kepemimpinan dunia saat ini terjebak dalam pola “perang berskala besar” dan “eksploitasi sumber daya”. Ia menolak segala bentuk perang, baik itu antara Iran, Israel, maupun Amerika Serikat. “Sebagai seorang gembala, saya tidak bisa mendukung perang,” ujarnya.
Selain itu, Paus menyoroti kegagalan diplomasi pada isu Iran‑Amerika. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas mandeknya pembicaraan damai, yang menurutnya memperpanjang penderitaan rakyat di kawasan tersebut, terutama di Iran.
Gambaran Paus Baru: Simbol dan Gaya
Meskipun penampilan Paus Leo XIV terkadang dianggap mewah, ia memilih pendekatan yang menekankan pesan moral di atas simbolisme. Foto-foto resmi memperlihatkan Paus dalam jubah tradisional Katolik, namun dengan sentuhan modern yang mencerminkan semangat reformasi.
Berbagai media melaporkan bahwa Paus berusaha menghubungkan ajaran Gereja dengan tantangan zaman, termasuk perubahan iklim, krisis energi, dan ketidaksetaraan ekonomi. Ia menekankan pentingnya solidaritas global, terutama bagi negara‑negara berkembang yang paling rentan terhadap dampak konflik dan bencana nuklir.
Dengan menonjolkan nilai‑nilai damai, keadilan, dan tanggung jawab lingkungan, Paus Leo XIV berusaha membentuk narasi baru dalam politik internasional yang mengedepankan moralitas daripada kepentingan geopolitik semata.
Ke depan, dunia akan mengamati apakah seruan Paus Leo XIV dapat menembus kebisingan diplomasi dan militer, serta menginspirasi langkah konkret menuju perdamaian dan penggunaan energi yang berkelanjutan.











