Keuangan.id – 16 Maret 2026 | Rupiah terus tertekan seiring dengan gejolak pasar global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa ketegangan geopolitik ini dapat menimbulkan risiko signifikan bagi perbankan Indonesia, khususnya pada sisi pasar, kredit, dan likuiditas valuta asing.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, OJK mengeluarkan beberapa rekomendasi strategis bagi lembaga keuangan:
- Menguatkan kerangka manajemen risiko, termasuk stress testing yang meniru skenario geopolitik ekstrem.
- Menjaga kecukupan cadangan valuta asing dengan meningkatkan proporsi likuiditas tinggi dan diversifikasi sumber dana luar negeri.
- Meningkatkan pemantauan eksposur kredit terhadap sektor‑sektor yang rentan, serta menyesuaikan kebijakan penyaluran kredit.
- Melakukan koordinasi intensif dengan Bank Indonesia untuk memastikan stabilitas pasar uang dan nilai tukar.
- Memberikan pelatihan kepada manajemen risiko dan tim treasury mengenai dinamika pasar global yang cepat berubah.
OJK juga menekankan pentingnya transparansi laporan keuangan serta keterbukaan informasi kepada publik, agar investor dan nasabah dapat menilai kesehatan likuiditas bank secara real time. Dengan langkah‑langkah ini, diharapkan sistem perbankan tetap resilient meski menghadapi ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.











