Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Setelah penutupan hampir total Selat Hormuz pada akhir Februari 2026 akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Iran kini mengumumkan izin perlintasan bagi 20 kapal tanker milik Pakistan. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tajam: apakah langkah tersebut merupakan sinyal perdamaian yang mengurangi ketegangan, atau justru bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas?
Latar Belakang Penutupan Hormuz
Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi titik fokus krisis energi global ketika Iran menutup aksesnya pada 28 Februari 2026. Penutupan tersebut mengakibatkan ribuan kapal tanker, termasuk kapal milik Pertamina, terperangkap di perairan strategis. Pasokan energi nasional dan harga minyak internasional sempat naik tajam, memaksa negara‑negara konsumen mencari alternatif rute.
Izin untuk Pakistan dan Negara Lain
Menurut laporan resmi yang dirilis pada akhir Maret, Iran memberikan pertimbangan positif bagi perlintasan kapal-kapal tanker berjenis Aframax milik Pakistan, yang disebut bernama “Karachi”. Selain Pakistan, Iran juga mengizinkan kapal tanker asal India, China, Turki, Malaysia, Spanyol, dan beberapa negara lain yang tidak terlibat dalam konflik langsung dengan Tehran.
Daftar izin per 28 Maret 2026 mencakup:
- Pakistan – 20 kapal tanker Aframax berhasil keluar melalui rute yang ditentukan.
- India – Dua kapal LPG melanjutkan perjalanan setelah koordinasi bilateral.
- China – Kapal tanker China memperoleh jaminan keamanan, meski dua kapal menunda keberangkatan karena alasan operasional.
- Turki, Malaysia, Spanyol – Masing‑masing mendapatkan persetujuan dari otoritas Iran.
Sementara itu, kapal Pertamina Indonesia masih menunggu kesiapan teknis, termasuk asuransi dan persiapan kru, meski secara diplomatik sudah memperoleh sinyal positif.
Reaksi Indonesia dan Upaya Diplomasi
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyambut baik keputusan Iran, namun menekankan agar pemerintah tidak terlena. “Keberhasilan diplomasi ini membuktikan bahwa komunikasi aktif dapat menghasilkan solusi nyata bagi kepentingan nasional, tetapi Indonesia harus menyiapkan strategi berlapis untuk menjaga pasokan energi,” ujarnya pada 30 Maret 2026.
Kementerian Luar Negeri RI melalui juru bicara Yvonne Mewengkang mengonfirmasi bahwa Iran menyampaikan pertimbangan positif atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina. Namun, Yvonne menegaskan bahwa pihak Pertamina masih harus memastikan kesiapan teknis, termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru, sebelum pelayaran dapat dilanjutkan.
Implikasi Strategis dan Ekonomi
Keputusan Iran membuka jalur bagi kapal Pakistan memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, langkah tersebut dapat dianggap sebagai upaya meredakan tekanan internasional dengan memperlihatkan fleksibilitas dalam kebijakan maritimnya. Di sisi lain, izin khusus bagi negara‑negara yang dianggap sekutu atau netral dapat menjadi alat tawar menekan negara Barat, khususnya AS dan Israel, yang tetap dilarang masuk.
Dampak ekonomi langsung terlihat pada pasar energi. Dengan beberapa kapal kembali melintas, aliran minyak global mulai stabil, menurunkan tekanan pada harga minyak mentah. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena kapal Indonesia belum dapat melintas, sehingga risiko gangguan pasokan tetap ada.
Perspektif Pakar Keamanan Laut
Para analis keamanan maritim menilai bahwa Iran menggunakan akses selektif sebagai strategi “divide and influence”. Dengan memberi izin kepada negara‑negara seperti Pakistan, India, dan China, Tehran berupaya memperkuat aliansi regional dan menambah leverage dalam negosiasi dengan Barat.
Namun, pakar lain menyoroti bahwa kebijakan ini juga berisiko meningkatkan ketegangan jika negara‑negara yang dilarang, terutama AS, menanggapi dengan tindakan militer tambahan. Oleh karena itu, diplomasi intensif diperlukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Indonesia, sebagai konsumen energi besar, berada pada posisi yang harus menyeimbangkan antara menunggu kelancaran perlintasan kapal Pertamina dan memperkuat diversifikasi pasokan energi, termasuk meningkatkan cadangan strategis dan memperluas jaringan pasokan alternatif.
Secara keseluruhan, izin 20 kapal Pakistan melintasi Selat Hormuz menandai perubahan dinamis dalam kebijakan Iran. Apakah ini merupakan sinyal damai atau bagian dari strategi perang yang lebih luas, masih memerlukan observasi lanjutan seiring perkembangan diplomatik dan keamanan di kawasan tersebut.











