Keuangan.id – 15 April 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan publik bukan hanya karena tujuan gizi anak sekolah, melainkan karena pengadaan armada motor listrik yang menimbulkan pertanyaan serius. Pemerintah menyiapkan lebih dari 20.000 unit motor listrik untuk mendukung mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, perbedaan harga antara motor yang dijual di pasar internasional sekitar Rp10 juta dan motor resmi MBG yang dibanderol hingga Rp56 juta memicu perdebatan sengit.
Motor yang dipilih untuk MBG bermerk Emmo JVX GT, sebuah motor trail listrik berdaya 3.800‑7.000 Watt dengan kecepatan puncak 80 km/jam. Spesifikasi lengkapnya mencakup baterai berkapasitas 72V 31 Ah, jarak tempuh hingga 70 km, dan kemampuan mengangkut beban sampai 200 kg. Desain motor tersebut sangat mirip dengan produk asal China, Kollter ES1‑X PRO, yang dipasarkan di platform internasional seperti Alibaba dengan harga sekitar Rp10‑12 juta. Kedua motor memang diproduksi oleh pabrikan yang sama, namun perbedaan signifikan terletak pada motor penggerak, torsi, serta sistem rem.
Perbandingan Teknis Emmo JVX GT vs Kollter ES1‑X PRO
| Aspek | Emmo JVX GT | Kollter ES1‑X PRO |
|---|---|---|
| Motor | Mid‑drive BLDC 3.800‑7.000 W | Axial‑Flux 11.000 W |
| Torsi | ‑ | 220 Nm |
| Kecepatan Maks | 80 km/jam | 96 km/jam |
| Baterai | 72V 31 Ah (portable) | 72V 31,5 Ah (Samsung Li‑Ion) |
| Jarak Tempuh | 70 km | 56‑112 km tergantung mode |
| Dimensi (P × L × T) | 2.080 mm × 860 mm × 1.150 mm | 1.701 mm × 584 mm × 1.117 mm |
| Bobot Kosong | 110 kg | 113,4 kg |
| Ban | 19″ × 18″ dual‑purpose | 21″ × 18″ |
Perbedaan tersebut dijadikan dasar Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menolak tuduhan rebranding murah. BGN menegaskan bahwa motor MBG masuk dalam ekosistem merek global Tinbot, yang memiliki standar kualitas internasional dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 %.
Namun, isu harga tetap menggelitik. Data Inaproc menunjukkan nilai per unit motor Emmo JVX GT mencapai Rp49,95 juta, belum termasuk pajak kendaraan bermotor, garansi, dan biaya administrasi. Harga resmi yang diumumkan BGN mencapai Rp56 juta, sementara motor serupa di pasar internasional hanya Rp10‑12 juta. Selisih ini menimbulkan dugaan praktik rebranding langsung dari pemasok China, terutama setelah pengguna media sosial @triwul82 mengungkap bahwa pemenang tender, PT Yasa Arta Trimanunggal, dipimpin oleh Yenna Yuniana, yang pernah menjadi subjek pemeriksaan KPK terkait korupsi bantuan beras.
Pengungkapan tersebut menambah dimensi politik pada kontroversi. Netizen menuduh “lingkaran setan” dalam proses tender, menyoroti kurangnya transparansi dan potensi konflik kepentingan. Sebagai respons, beberapa pihak menuntut audit mendalam terhadap proyek berharga triliunan rupiah, termasuk verifikasi dokumen tender, evaluasi harga pasar, serta penelusuran jejak dana.
Di tengah sorotan itu, kecelakaan yang melibatkan kendaraan operasional MBG di Tuban menambah beban reputasi. Pada 14 April 2026, sebuah mobil MBG menabrak sepeda motor yang dikendarai pasangan lansia, mengakibatkan luka serius pada kedua korban. Kejadian tersebut memperlihatkan masalah operasional di lapangan, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang pelatihan pengemudi dan prosedur keselamatan dalam penggunaan armada MBG.
Pihak kepolisian setempat memastikan bahwa kasus kecelakaan telah ditangani, namun tidak ada laporan resmi yang mengaitkan kecelakaan dengan kualitas atau kondisi teknis motor listrik. Meski demikian, insiden tersebut memperkuat tuntutan masyarakat akan akuntabilitas penuh atas penggunaan dana publik dalam program MBG.
Secara keseluruhan, motor MBG menjadi simbol pertemuan antara ambisi kebijakan sosial, dinamika pasar teknologi, dan tantangan tata kelola publik. Pemerintah kini dihadapkan pada dua pilihan: memperjelas proses pengadaan dengan mengungkapkan rincian biaya, spesifikasi, serta kriteria pemilihan pemenang tender; atau memperkuat mekanisme pengawasan agar proyek serupa tidak menimbulkan kecurigaan di masa mendatang. Langkah audit independen yang diminta oleh aktivis dan media dapat menjadi titik balik untuk memastikan bahwa investasi sebesar Rp1 triliun dalam armada MBG benar-benar memberi manfaat maksimal bagi anak‑anak Indonesia.











