Keuangan.id – 06 Mei 2026 | Emirates Stadium menjadi saksi kegelisahan Mikel Arteta pada sore menjelang leg kedua semifinal Liga Champions melawan Atletico Madrid. Setelah leg pertama berakhir imbang 1-1, sorotan tajam beralih pada ketidakefisienan serangan Arsenal serta kerentanan pertahanan yang muncul pada fase akhir pertandingan.
Analisis performa Arsenal di leg pertama
Serangan Gunners tampak tumpul di zona tengah. Viktor Gyokeres berhasil mencetak gol pada menit ke-44, namun peluang selanjutnya terlewatkan karena kurangnya kreativitas dari lini tengah. Martin Zubimendi, yang biasanya menjadi otak penggerak, terlihat lelah setelah mencatat 52 penampilan di semua kompetisi musim ini. Kurangnya perpindahan cepat dan penempatan bola membuat Arsenal bergantung pada serangan sayap, namun Bukayo Saka dan Noni Madueke tidak mampu mengonversi kelebihan ruang menjadi gol.
Di sektor defensif, Arsenal terlihat lengah pada menit-menit krusial. Pada menit ke-56, Julian Alvarez menyeimbangkan kedudukan setelah memanfaatkan celah kecil di antara bek kiri dan gelandang bertahan. Jurrien Timber, yang masih terbatuk cedera pangkal paha, tidak tersedia, meninggalkan lapisan pertahanan yang rapuh. Kombinasi antara Piero Hincapie yang baru kembali dan Riccardo Calafiori dari bangku cadangan belum memberikan kestabilan yang diharapkan.
Strategi Arteta dan kritik publik
Mikel Arteta menegaskan bahwa tim harus bermain agresif sejak peluit pertama. Ia menuntut pemain untuk “mendikte jalannya pertandingan” dan menolak rasa gugup. Namun, komentar Thierry Henry yang mendorong penggunaan Myles Lewis‑Skelly sebagai starter menambah tekanan pada Arteta. Henry menilai Lewis‑Skelly memberikan dimensi baru dengan energi dan agresivitas yang kurang dimiliki Zubimendi.
Keputusan Arteta untuk menempatkan Zubimendi kembali ke XI pertama menimbulkan perdebatan. Meskipun pengalaman pemain tersebut di La Liga berguna, keletihan fisik menjadi faktor yang tak dapat diabaikan. Sebaliknya, Lewis‑Skelly, yang tampil impresif melawan Fulham dengan akurasi umpan 97 persen, tampak lebih segar dan berpotensi memberikan tekanan lebih tinggi pada lini tengah.
Masukan Thierry Henry dan dinamika skuad
Thierry Henry, legenda Arsenal, menyoroti bahwa Lewis‑Skelly telah menunjukkan kemampuan membaca permainan, menutup ruang, serta melakukan tekel tepat waktu. Ia menilai bahwa pemain muda tersebut dapat menjadi “bintang baru” yang menghidupkan lini tengah Gunners. Saran ini menambah dilema taktis bagi Arteta, mengingat keterbatasan opsi di posisi gelandang tengah.
Di sisi lain, Martin Ødegaard kembali setelah cedera lutut ringan. Kapten tim diharapkan menjadi penggerak serangan balik, namun harus bersaing dengan Lewis‑Skelly untuk tempat di lini tengah. Keputusan akhir Arteta akan sangat memengaruhi keseimbangan antara kreativitas dan energi defensif.
Harapan dan tekad menuju final
Arteta tidak menyembunyikan ambisinya. Ia menegaskan bahwa kemenangan adalah “harga mati” untuk meraih tiket final, sesuatu yang belum diraih Arsenal sejak 2006. Atmosfer di Emirates dijanjikan akan menjadi tambahan motivasi, mengingat dukungan fanatik yang selalu mengisi stadion.
Jika Arsenal mampu mengatasi kebobolan di belakang dan meningkatkan efektivitas serangan, peluang untuk menembus final menjadi lebih besar. Namun, tekanan akan tetap tinggi, mengingat Atletico Madrid memiliki lini serang berbahaya dengan Griezmann dan Álvarez yang selalu mengancam.
Semua mata kini tertuju pada keputusan taktis Arteta pada menit-menit menjelang kick‑off. Pilihan antara pengalaman Zubimendi atau energi Lewis‑Skelly dapat menjadi penentu apakah Arsenal akan tampil tajam atau tetap terjebak dalam kebuntuan.
Dengan 76 poin di klasemen Premier League dan keunggulan enam angka atas Manchester City, Arsenal berada di posisi yang kuat secara domestik. Namun, tantangan di panggung Eropa menuntut konsistensi yang berbeda, terutama dalam hal konsentrasi defensif dan kreativitas menyerang.
Apakah Arteta mampu menyesuaikan taktiknya, atau justru terjebak dalam kebiasaan lama yang menimbulkan kerentanan, akan terungkap pada laga leg kedua. Satu hal pasti: tekanan untuk mengakhiri penantian 20 tahun menuju final Liga Champions kini berada di pundak sang manajer.
