Keuangan.id – 13 Maret 2026 | JAKARTA – Menteri Olahraga Republik Islam Iran, Ahmad Doyanmali, mempertegas pada Rabu (11/3/2026) bahwa tim nasional sepak bola Iran tidak akan berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keputusan ini diambil sebagai respons atas serangan udara terbaru yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya Israel ke wilayah Tehran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta menimbulkan ratusan korban jiwa.
“Mengingat rezim korup Amerika Serikat telah membunuh pemimpin kami, dalam keadaan apa pun kami tidak dapat berpartisipasi di Piala Dunia 2026,” ujar Doyanmali dalam konferensi pers yang disiarkan oleh televisi pemerintah. Menteri tersebut menambahkan bahwa keamanan para pemain dan seluruh staf teknis menjadi prioritas utama, mengingat ancaman serangan lebih lanjut yang dapat terjadi di wilayah Amerika Serikat tempat Iran dijadwalkan bermain.
Iran sebelumnya terdaftar di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, dengan pertandingan fase grup yang direncanakan berlangsung di California dan Seattle. Namun, Doyanmali menegaskan bahwa “orang‑orang kami tidak aman, dan secara fundamental, kondisi untuk berpartisipasi tidak ada” karena tindakan agresif yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran.
Pengumuman ini menimbulkan spekulasi mengenai konsekuensi disiplin dari FIFA. Menurut regulasi turnamen, tim yang mengundurkan diri setelah batas waktu dapat dikenai denda finansial dan sanksi tambahan. Berikut adalah poin‑poin utama sanksi yang mungkin dijatuhkan FIFA:
- Denda minimal CHF 250.000 (sekitar Rp5,4 miliar) jika penarikan diri diumumkan lebih dari 30 hari sebelum kickoff pertama.
- Denda dua kali lipat jika penarikan diri dilakukan kurang dari 30 hari sebelum kickoff.
- Kewajiban mengembalikan seluruh dana persiapan tim dan kontribusi turnamen yang telah diberikan oleh FIFA.
- Potensi larangan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selanjutnya.
- FIFA berhak merelokasi pertandingan Iran ke negara tuan rumah lain (Kanada atau Meksiko) demi alasan keamanan.
Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat, melalui pernyataan Presiden Donald Trump, telah menjamin bahwa tim Iran “dipersilakan untuk berkompetisi” di Piala Dunia 2026. Namun, pernyataan tersebut kini dipertanyakan mengingat situasi geopolitik yang memanas.
Berita mengenai penarikan diri Iran juga dilaporkan oleh beberapa media internasional, termasuk OneFootball, yang menyoroti bahwa keputusan ini bukan hanya soal keamanan, melainkan juga bentuk protes politik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap “memaksa dua perang” terhadap Iran dalam kurun waktu delapan hingga sembilan bulan terakhir.
Jika Iran resmi mundur, FIFA kemungkinan akan mencari tim pengganti untuk mengisi slot yang kosong. Proses penggantian ini biasanya melibatkan tim yang berada di urutan teratas kualifikasi zona masing‑masing, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Komite Eksekutif FIFA.
Keputusan Iran untuk tidak berpartisipasi menambah daftar boikot politik dalam sejarah Piala Dunia, yang sebelumnya melibatkan negara‑negara seperti Yugoslavia (1992) dan Sudan (1970). Analisis para pakar hubungan internasional menilai bahwa langkah ini dapat memperdalam ketegangan antara Tehran dan Washington, sekaligus menimbulkan implikasi ekonomi bagi industri sepak bola Iran yang sangat bergantung pada sponsor internasional.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari FIFA mengenai status keikutsertaan Iran. Namun, pihak federasi sepak bola Iran (FFIRI) telah menyatakan kesiapan mereka untuk berkoordinasi dengan FIFA demi menemukan solusi yang mengutamakan keselamatan pemain.
Dengan situasi yang terus berkembang, dunia olahraga menanti keputusan final FIFA serta dampaknya terhadap format grup dan jadwal pertandingan Piala Dunia 2026.











