Keuangan.id – 15 April 2026 | Ramadan 1448 H mendekati akhir, namun tidak sedikit umat Islam yang masih memiliki hari puasa yang belum tertunaikan karena alasan sah seperti sakit, haid, atau perjalanan jauh. Menyelesaikan puasa yang ditinggalkan menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Artikel ini menyajikan penjelasan komprehensif mengenai niat puasa qadha Ramadan, tata cara pelaksanaannya, serta pandangan ulama terkait.
Apa Itu Puasa Qadha?
Puasa qadha merupakan puasa pengganti yang harus dilaksanakan oleh orang yang tidak dapat menunaikan puasa wajib pada waktunya karena uzur (halangan) yang dibenarkan syariat. Dalam konteks Ramadan, qadha harus diselesaikan sebelum hari raya Idul Fitri, namun bila terlewat, dapat dilaksanakan pada hari-hari setelah Ramadan dengan niat menggantikan hari yang ditinggalkan.
Rukun dan Syarat Niat Qadha
Secara prinsip, setiap ibadah dalam Islam memerlukan niat yang mengikat hati kepada Allah. Niat puasa qadha tidak berbeda, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai keharusan menyebutkan niat secara lisan. Berikut rukun utama niat qadha:
- Kesadaran bahwa puasa yang akan dilaksanakan merupakan pengganti hari yang ditinggalkan.
- Keinginan tulus karena Allah semata, tanpa motif duniawi.
- Penetapan hari qadha yang akan dilaksanakan, baik secara mental maupun verbal.
Cara Menyatakan Niat Secara Praktis
Para ulama menyepakati bahwa niat dapat dicapai melalui hati, namun banyak mereka menyarankan untuk mengucapkan niat secara singkat untuk menegaskan fokus. Contoh kalimat niat yang umum dipakai:
- “Nawaitu shauma ramadana qadhaan” (Saya berniat berpuasa Ramadan qadha).
- Jika mengganti lebih dari satu hari, dapat ditambah keterangan: “Nawaitu shauma ramadana qadhaan li thalathi ayyam” (Saya berniat berpuasa Ramadan qadha untuk tiga hari).
Pengucapan tersebut dapat dilakukan sebelum sahur atau pada waktu sahur, asalkan niat sudah terpatri di dalam hati.
Pendapat Ulama tentang Niat Lisan
Mayoritas mazhab (Syafi’i, Maliki, dan Hanbali) menegaskan bahwa niat lisan bukan syarat wajib, melainkan sarana untuk membantu mengingat tujuan. Mazhab Hanafi menekankan bahwa niat harus ada di dalam hati, namun tidak melarang penyebutan secara lisan. Oleh karena itu, umat dapat menyesuaikan dengan kebiasaan masing‑masing tanpa khawatir melanggar prinsip syariat.
Langkah-Langkah Menjalankan Puasa Qadha
- Pastikan alasan uzur sah. Catat hari yang ditinggalkan dan pastikan tidak ada niat mengulang puasa karena kelalaian.
- Tetapkan niat. Ucapkan niat secara singkat atau cukup dalam hati sebelum sahur.
- Lakukan sahur. Makan dan minum sebelum terbit matahari untuk menyiapkan diri.
- Jaga niat selama puasa. Hindari makan, minum, dan perbuatan yang membatalkan puasa.
- Berbuka dengan takbiran. Setelah matahari terbenam, berbuka dengan air atau kurma, kemudian shalat Maghrib.
- Catat hari qadha yang telah selesai. Membuat daftar membantu memastikan semua hari tertinggal selesai sebelum Idul Fitri.
Jika terdapat hari qadha yang berlebih, umat dapat melaksanakannya secara berurutan atau menggabungkan beberapa hari menjadi satu puasa, selama tidak melebihi dua hari berturut‑turut yang dibatalkan.
Dengan memahami esensi niat puasa qadha dan mengikuti prosedur yang tepat, umat Muslim dapat menunaikan kewajiban dengan khusyuk, menghindari dosa yang timbul dari puasa yang tidak sah, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Menyelesaikan puasa yang tertinggal menjadi tanda komitmen pada prinsip Islam yang menekankan keadilan dan tanggung jawab pribadi.











