Keuangan.id – 03 April 2026 | Pada malam Rabu, 1 April 2026, Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning di Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, meledak hebat setelah kebocoran gas menyebar ke jalanan sekitar. Kejadian tersebut menimbulkan kepanikan massal, menumbuk rumah warga, kios, serta menewaskan beberapa orang. Petugas pemadam kebakaran, kepolisian, dan tim forensik Polri langsung dikerahkan untuk mengendalikan api dan menyelidiki penyebab ledakan.
Detik‑detik kebocoran dan ledakan
Menurut saksi mata, pada sore hari sekitar pukul 18.30 WIB, bau gas tajam mulai tercium di depan SPBE. Bayu, seorang warga setempat, menyampaikan bahwa ia melihat asap tipis menyerupai kabut menutupi jalan ketika proses pengisian gas sedang berlangsung. Ia menutup pagar rumahnya karena aroma gas yang semakin kuat. Tak lama kemudian terdengar dentuman keras, diikuti oleh ledakan pertama yang menggelegar.
Wahyu, seorang warga yang berada di dekat lokasi, melaporkan bahwa ia mendengar lebih dari tujuh ledakan berurutan dalam rentang waktu dua menit. Setiap ledakan menambah intensitas api yang segera menjalar ke ruko dan rumah warga. Api yang menyala setinggi lebih dari tiga meter meluncur cepat ke arah jalan utama, menimbulkan kerusakan pada atap, plafon, serta struktur bangunan di sekitarnya.
Reaksi warga dan evakuasi
Ketika gas menyebar, banyak warga yang berusaha melarikan diri. Abdul Muhi, yang tinggal tepat di samping SPBE, menggambarkan situasi “seperti kabut tebal yang menyengat”. Ia menggerakkan ibunya dan memanggil tetangga untuk segera mengosongkan rumah. Seluruh warga sekitar berhamburan ke tempat terbuka, sementara beberapa mobil melaju kencang menghindari zona bahaya.
Warga melaporkan bahwa percikan api dari ledakan berhasil menembus beberapa rumah, menghancurkan plafon dan menembus dinding. Beberapa rumah mengalami kerusakan total, termasuk kehilangan barang berharga seperti hewan peliharaan dan peralatan rumah tangga. Total korban luka bakar serius tercatat sebanyak 14 orang, yang segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk perawatan intensif.
Penyelidikan dan tindakan pihak berwenang
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, menyatakan bahwa tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri bersama Polda Metro Jaya tengah melakukan investigasi intensif. Pemeriksaan mencakup analisis rekaman CCTV yang diduga merekam detik‑detik ledakan, serta inspeksi teknis pada sistem pengisian gas.
Menurut pernyataan Kapolres, kebocoran gas terjadi saat proses pengisian, namun prosedur penghentian tidak dijalankan dengan tepat sehingga gas mengalir selama kurang lebih 15‑20 menit sebelum terbakar. Sistem pemadam otomatis di SPBE berfungsi sebagian; tangki utama berkapasitas 50.000 ton tidak terbakar berkat hidran air dan pemutus arus, namun sekitar 15.000 ton gas di area sekitarnya terbakar habis.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional JBB, Susanto August Satria, menegaskan bahwa SPBE Cimuning dikelola oleh pihak swasta dengan izin resmi sejak 2009. Ia menambahkan bahwa perusahaan masih menunggu hasil akhir penyelidikan untuk menentukan kronologi pasti kejadian.
Kerugian material dan langkah bantuan
Kerusakan yang dilaporkan mencakup puluhan rumah warga, beberapa kios pedagang, serta kendaraan roda dua dan empat. Data awal menunjukkan kerugian material masih dalam proses pendataan. Warga menuntut bantuan darurat, khususnya untuk kebutuhan makanan, pakaian, dan perbaikan tempat tinggal.
Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Penanggulangan Bencana menyatakan akan mengirimkan bantuan logistik serta membuka posko bantuan sementara. Selain itu, pihak kepolisian berjanji akan mengevaluasi kembali lokasi SPBE yang berada terlalu dekat dengan permukiman padat, guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap fasilitas penyimpanan dan distribusi gas, serta perlunya prosedur darurat yang cepat dan terkoordinasi. Masyarakat berharap proses penyelidikan dapat segera menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan keselamatan publik.









