Keuangan.id – 26 April 2026 | Harga plastik yang terus meroket menjadi sorotan utama dalam dinamika inflasi pangan Indonesia. Kenaikan ini tidak hanya menambah beban konsumen, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak goreng, komoditas penting bagi jutaan rumah tangga.
Faktor Global yang Menggerakkan Harga Plastik
Menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, konflik di Timur Tengah—khususnya penutupan Selat Hormuz—mengganggu pasokan minyak mentah dunia. Harga minyak mentah melonjak dari sekitar USD 60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari USD 110 per barel. Karena plastik merupakan turunan langsung dari energi fosil, kenaikan harga minyak mentah secara otomatis mendorong harga plastik naik.
Hubungan Antara Harga Minyak Mentah, Plastik, dan Minyak Goreng
Rantai pasokannya sederhana: minyak mentah → bahan baku petrokimia → resin plastik → kemasan minyak goreng. Saat harga resin plastik naik, produsen minyak goreng sawit (MGS) harus menanggung biaya tambahan pada kemasan, terutama untuk varian premium dan curah. Data berikut menggambarkan perubahan harga pada tiga segmen MGS selama Januari–Maret 2026.
| Segmen MGS | Harga Januari 2026 (Rp/L) | Harga April 2026 (Rp/L) |
|---|---|---|
| MGS Premium | 21.166 | 21.793 |
| MGS Curah | 17.790 | 19.486 |
| MGS MinyaKita | 16.865 | 15.949 |
Catatan penting: penurunan harga MGS MinyaKita dipengaruhi kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) dan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berhasil menstabilkan pasokan.
Kebijakan Pemerintah dalam Menjaga Harga
- DMO: Mengatur alokasi minyak sawit untuk pasar domestik.
- Pengendalian Penyaluran (D1, D2): Menjaga distribusi yang merata.
- HET: Membatasi harga jual tertinggi bagi konsumen.
Keberhasilan kebijakan ini terlihat pada penurunan harga MGS MinyaKita. Namun, keberlanjutan harga tersebut masih tergantung pada evolusi biaya kemasan plastik.
Dampak pada UMKM dan Konsumen
Usaha kecil merasakan tekanan yang signifikan. Sebuah gerai kopi di Belitung Timur melaporkan pengeluaran hingga Rp1,5 juta per minggu hanya untuk membeli cup plastik. Di sektor minuman lokal, produsen jeruk kunci Mirrando harus menyesuaikan harga kemasan 250 ml menjadi Rp10.000 dan 500 ml menjadi Rp40.000, karena biaya plastik yang terus naik.
Ketiga contoh tersebut mencerminkan beban tambahan yang diteruskan ke konsumen, memperlebar kesenjangan antara harga produksi dan harga jual akhir.
Prospek dan Alternatif
Jika harga minyak mentah tetap tinggi, perkiraan kenaikan harga plastik dapat mencapai 15‑20 % dalam enam bulan ke depan. Pemerintah dan Bank Indonesia diimbau untuk menyelaraskan kebijakan moneter serta memperkuat dukungan subsidi bagi sektor UMKM yang paling terdampak. Sementara itu, inovasi pengganti plastik—seperti kemasan berbasis kertas atau bioplastik—dapat menjadi solusi jangka panjang, meski masih memerlukan investasi awal.
Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik bukan sekadar fenomena pasar komoditas, melainkan faktor penggerak utama inflasi pangan melalui harga minyak goreng. Koordinasi kebijakan energi, industri petrokimia, dan dukungan bagi pelaku usaha kecil menjadi kunci untuk menahan dampak berkelanjutan.
