Keuangan.id – 05 April 2026 | Pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik (EV) di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan pada awal 2026, dengan peningkatan sebesar 39,13% dibandingkan periode sebelumnya. Meskipun angka tersebut menggambarkan minat yang kuat dari konsumen, lembaga pembiayaan multinegara tetap menunjukkan sikap hati-hati.
Fenomena ini dipicu oleh terbatasnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang masih menjadi andalan bagi sebagian besar kendaraan konvensional. Kekurangan BBM menimbulkan dua dampak utama bagi sektor pembiayaan kendaraan listrik:
- Kenaikan permintaan kendaraan listrik sebagai alternatif, yang mendorong lembaga keuangan menilai risiko pasar baru.
- Ketidakpastian harga energi dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi kemampuan bayar konsumen dalam jangka panjang.
Berikut adalah ringkasan faktor-faktor yang membuat perusahaan multifinance waspada:
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Keterbatasan BBM | Mengakibatkan volatilitas harga energi dan menambah beban operasional bagi konsumen. |
| Regulasi Pemerintah | Perubahan insentif fiskal atau pajak dapat mempengaruhi profitabilitas pembiayaan EV. |
| Risiko Kredit | Masih terbatasnya riwayat kredit pembeli EV dibandingkan pembeli kendaraan konvensional. |
| Infrastruktur Pengisian | Ketersediaan stasiun pengisian yang belum merata menambah keraguan konsumen. |
Secara keseluruhan, meskipun pertumbuhan pembiayaan EV menunjukkan tren positif, lembaga multifinance tetap memantau faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi kelangsungan pembiayaan. Kebijakan pemerintah yang konsisten dan peningkatan infrastruktur pengisian daya menjadi kunci untuk menurunkan tingkat kewaspadaan dan mendorong adopsi kendaraan listrik secara lebih luas.











