Keuangan.id – 18 Mei 2026 | Letusan vulkanik merupakan salah satu fenomena alam yang paling spektakuler dan berdampak signifikan pada lingkungan. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan bahwa letusan gunung api bawah laut Hunga Tonga–Hunga Ha’apai di Pasifik Selatan pada Januari 2022 memiliki efek samping yang tidak terduga, yaitu membersihkan polusi gas metana di atmosfer Bumi.
Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications dan diyakini dapat memberikan petunjuk penting dalam mempercepat teknologi penanganan pemanasan global. Letusan mahadahsyat ini ternyata membantu menghancurkan sekitar 900 megagram metana per hari, yang merupakan gas rumah kaca yang bertanggung jawab atas sepertiga pemanasan global saat ini.
Proses Kimiawi Unik
Para peneliti menjelaskan bahwa letusan Tonga secara tidak sengaja memicu proses kimiawi unik yang mirip dengan fenomena debu Gurun Sahara di Samudra Atlantik. Ketika Gunung Tonga meletus, ia tidak hanya menyemburkan abu, tetapi juga melontarkan air laut yang asin dalam jumlah besar langsung ke lapisan stratosfer.
Di bawah paparan sinar matahari, campuran abu vulkanik dan garam ini menghasilkan atom klorin yang sangat reaktif. Atom klorin inilah yang kemudian menyerang dan merombak molekul gas metana di udara. Profesor Matthew Johnson dari Universitas Kopenhagen menyebut fenomena ini sangat mengejutkan karena terjadi di stratosfer yang kondisi fisiknya sama sekali berbeda dengan atmosfer bawah.
Gunung Dukono Erupsi Dahsyat Lagi
Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi dahsyat pada Senin malam dengan kolom abu mencapai 3.800 meter. Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan bahwa tinggi kolom letusan teramati mencapai 3.800 meter di atas puncak, atau sekitar 4.887 meter di atas permukaan laut.
Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 27 milimeter dan durasi sekitar 79 detik. Sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunung Dukono juga terpantau tinggi dalam beberapa hari terakhir. Badan Geologi mencatat sejak 9 hingga 14 Mei 2026, gunung api tersebut mengalami rata-rata 48 kali erupsi per hari dengan tinggi kolom abu berkisar 600 meter hingga 4.300 meter di atas puncak.
Letusan Gunung St. Helens
Gunung St. Helens di negara bagian Washington, Amerika Serikat, meletus dahsyat pada 18 Mei 1980 setelah mengalami rangkaian aktivitas seismik sejak awal tahun tersebut. Peristiwa ini menjadi salah satu letusan gunung berapi paling merusak dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Gunung yang berada di rangkaian Pegunungan Cascade, sekitar 80 kilometer dari Portland, Oregon, itu sebelumnya telah lama tidak aktif. Dalam catatan sejarah, masyarakat adat setempat menyebutnya “Louwala-Clough” atau “Gunung Berasap” karena aktivitas vulkanik pada abad ke-19.
Letusan Gunung St. Helens pada 18 Mei 1980 merupakan salah satu bencana alam paling parah dalam sejarah Amerika Serikat. Letusan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada lingkungan sekitar dan menyebabkan kematian 57 orang.
Dalam beberapa dekade terakhir, Gunung Dukono terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi, dengan erupsi-erupsi kecil hingga sedang terjadi secara berkala. Namun, letusan besar seperti yang terjadi pada 1980 belum terjadi lagi.
Para ilmuwan terus memantau aktivitas Gunung Dukono dan gunung-gunung berapi lainnya di Indonesia untuk memahami proses geologi yang terjadi dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat sekitar tentang potensi bahaya erupsi.
Dengan demikian, penting untuk terus memantau dan mempelajari fenomena alam seperti letusan vulkanik untuk memahami proses geologi yang terjadi dan memberikan kontribusi pada penanganan pemanasan global.









