Keuangan.id – 27 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa kesehatan mental harus menjadi komponen utama dalam kurikulum nasional. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada media, Moerdijat menyoroti perlunya langkah strategis bersama pemangku kepentingan untuk meningkatkan literasi nasional sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan psikologis generasi muda.
Menurut Moerdijat, tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini tidak hanya terletak pada angka rendahnya minat baca, tetapi juga pada kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan mental di kalangan pelajar. “Jika kita ingin menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan produktif, kita tidak dapat mengabaikan faktor psikologis yang memengaruhi proses belajar,” ujarnya.
Strategi Peningkatan Literasi Nasional
Moerdijat mengusulkan serangkaian langkah strategis yang melibatkan kementerian pendidikan, lembaga kebudayaan, serta organisasi non‑pemerintah. Beberapa poin utama meliputi:
- Penyediaan bahan bacaan yang relevan dan mudah diakses di seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil.
- Peningkatan pelatihan guru dalam metode mengajar yang memotivasi minat baca siswa.
- Pembentukan program insentif bagi sekolah yang berhasil meningkatkan angka literasi.
Selain itu, Moerdijat menekankan perlunya integrasi teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan literasi. Penggunaan aplikasi pembelajaran interaktif dan platform e‑book dipandang sebagai katalisator untuk mempercepat perubahan budaya membaca di Indonesia.
Integrasi Kesehatan Mental dalam Kurikulum
Langkah berikutnya, kata Moerdijat, adalah menambahkan modul kesehatan mental ke dalam kurikulum dasar. Modul ini diharapkan mencakup materi tentang pengenalan emosi, teknik coping, serta cara mengakses layanan dukungan psikologis. “Kesehatan mental bukan lagi sekadar isu pribadi; ia menjadi kepentingan publik yang harus dipelajari sejak dini,” jelasnya.
Usulan tersebut selaras dengan rekomendasi dari para ahli pendidikan dan psikologi yang menyatakan bahwa siswa yang memiliki kemampuan regulasi emosional cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik. Penelitian internasional menunjukkan bahwa program pendidikan kesehatan mental dapat menurunkan angka stres, kecemasan, dan depresi pada remaja hingga 30 persen.
Untuk merealisasikan integrasi ini, Moerdijat mengusulkan beberapa tahapan konkret:
- Pembentukan tim kerja lintas sektoral yang terdiri dari pakar pendidikan, psikolog, dan perwakilan pemerintah.
- Pengembangan kurikulum pilot yang diuji coba di sejumlah sekolah percontohan di berbagai provinsi.
- Evaluasi hasil pilot dan penyesuaian materi sebelum penerapan nasional.
Ia menambahkan bahwa pelatihan guru menjadi kunci utama keberhasilan program. Guru tidak hanya harus menguasai materi akademik, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan dalam mendukung kesehatan mental siswa.
Selain itu, Moerdijat menyoroti pentingnya kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Dengan melibatkan keluarga dalam proses edukasi, diharapkan dukungan emosional dapat terjalin secara berkelanjutan di luar lingkungan sekolah.
Langkah strategis ini, kata Moerdijat, tidak dapat terlepas dari komitmen anggaran yang memadai. Ia meminta alokasi dana khusus dalam APBN untuk program literasi dan kesehatan mental, serta mengajak sektor swasta untuk berpartisipasi melalui program corporate social responsibility.
Sejumlah lembaga pendidikan dan organisasi non‑profit telah menyambut baik inisiatif tersebut, menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam penyusunan materi dan pelatihan guru. Di sisi lain, beberapa pihak menilai bahwa tantangan birokrasi dan koordinasi antar‑instansi perlu diatasi secara cepat untuk menghindari penundaan implementasi.
Dengan menekankan sinergi antara literasi dan kesehatan mental, Lestari Moerdijat berharap dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa langkah strategis ini akan menjadi tonggak sejarah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Jika kebijakan ini dapat dijalankan secara konsisten, dampaknya tidak hanya akan terlihat pada peningkatan angka literasi, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis generasi muda yang siap menghadapi tantangan global.











