Keuangan.id – 07 April 2026 | Reksadana saham Indonesia mencatat penurunan tajam pada bulan Maret 2026, dengan rata‑rata nilai aset bersih (NAB) turun 10,43% dibandingkan dengan akhir Februari. Penurunan ini menempatkan produk‑produk berbasis saham sebagai sektor tertekan di pasar dana terbuka.
Beberapa faktor eksternal menjadi pemicu utama. Konflik yang berlangsung di Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar global, memicu aliran dana keluar dari aset‑aset berisiko. Di dalam negeri, kebijakan fiskal pemerintah yang mengarah pada peningkatan belanja dan defisit anggaran menambah tekanan pada sentimen investor.
| Bulan | Perubahan NAB (%) |
|---|---|
| Januari 2026 | -2,1 |
| Februari 2026 | -3,5 |
| Maret 2026 | -10,43 |
Akibat penurunan ini, manajer investasi mengalihkan fokus ke sektor defensif seperti obligasi pemerintah dan reksadana pasar uang, sementara alokasi pada saham berkurang signifikan. Investor ritel disarankan meninjau kembali profil risiko dan mempertimbangkan diversifikasi lintas kelas aset.
Ke depan, pasar reksadana diproyeksikan akan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik serta kebijakan fiskal dan moneter domestik. Pemulihan mungkin memerlukan stabilisasi situasi internasional dan kebijakan fiskal yang lebih terarah.











