Keuangan.id – 02 April 2026 | Jerman pada Rabu (1/4) mengeluarkan pernyataan tegas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan keputusan akhir untuk menarik AS keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Juru bicara pemerintah Jerman menegaskan bahwa negara tersebut tetap berkomitmen penuh pada aliansi, meskipun tekanan dari Washington semakin keras.
Latar Belakang Ancaman Trump
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan The Telegraph, Trump menyatakan bahwa NATO hanyalah “macan kertas” dan menolak untuk mempertimbangkan kembali keputusan keluarnya. Pernyataan tersebut muncul setelah sekutu-sekutu Barat menolak permintaan AS untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz, wilayah strategis yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia. Trump menuding Inggris, Prancis, dan negara-negara lain tidak memberikan dukungan yang memadai dalam operasi melawan Iran, sehingga memicu kemarahannya.
Trump juga menegaskan bahwa keputusan keluarnya sudah final dan tidak dapat diubah lagi. Dalam unggahan di platform media sosialnya, ia menuduh NATO tidak membantu AS dalam konflik di Timur Tengah, khususnya selama serangan militer bersama Israel dan AS terhadap Iran pada akhir Februari.
Respon Jerman
Juru bicara pemerintah Jerman, yang dilaporkan Reuters, menanggapi dengan menegaskan bahwa Jerman tidak akan mengubah posisinya. “Ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal ini, ini fenomena yang berulang, anda bisa mempertimbangkan konsekuensinya sendiri,” ujarnya. Jerman menekankan peran strategisnya di tengah Eropa, dengan sejumlah pangkalan militer AS yang berada di wilayahnya. “Kami masih, dan tentu saja, berkomitmen pada NATO,” tambahnya, menolak memberi komentar lebih lanjut tentang kata‑kata Presiden Trump.
Pandangan Inggris
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, juga memberikan penilaian terkait sinyal Trump. Starmer menegaskan bahwa Inggris harus mengutamakan kepentingan nasional, namun tidak menutup kemungkinan untuk memperkuat kerja sama keamanan dan ekonomi dengan sekutu-sekutunya, termasuk negara‑negara Uni Eropa. “Kami ingin lebih ambisius, kerja sama ekonomi yang lebih erat, kerja sama keamanan yang lebih erat, kemitraan yang mengakui nilai‑nilai bersama,” katanya.
Starmer juga menyinggung krisis energi yang dipicu oleh operasi militer AS‑Israel di Iran, serta menekankan pentingnya stabilitas jalur energi global, termasuk di Selat Hormuz.
Implikasi Bagi Keamanan Eropa
Jika Amerika Serikat benar‑benar menarik diri dari NATO, konsekuensi geopolitik bagi Eropa akan signifikan. Jerman, sebagai salah satu anggota terbesar aliansi, akan menghadapi tekanan untuk menambah kontribusi pertahanan, baik secara finansial maupun melalui penempatan pasukan. Posisi geografis Jerman yang berada di pusat Eropa menjadikannya titik kunci bagi mobilisasi pasukan NATO.
Selain itu, ketegangan dengan Rusia dapat meningkat bila aliansi kehilangan satu anggota paling berpengaruh. Putin telah menyoroti kelemahan NATO sebelumnya, dan penarikan AS dapat membuka ruang bagi Moskow untuk memperluas pengaruhnya di Eropa Timur.
Reaksi Internasional Lainnya
Beberapa negara sekutu lain, termasuk Spanyol, juga menolak memberikan izin bagi kapal perang AS melewati perairan mereka, menambah kompleksitas situasi. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menekankan pentingnya dukungan sekutu dalam menahan agresi Iran, khususnya di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Sejumlah analis keamanan menyarankan bahwa meski Trump mengancam penarikan, proses legal dan politik di dalam Kongres AS akan menjadi penghalang signifikan bagi keluarnya secara tiba‑tiba. Namun, ketegangan politik dalam aliansi tetap tinggi, dan keputusan tersebut dapat memicu renegosiasi ulang peran masing‑masing anggota NATO.
Dengan komitmen Jerman yang kuat dan pernyataan Inggris yang menekankan kepentingan nasional namun tetap membuka peluang kerja sama, aliansi NATO tampaknya masih memiliki landasan solid untuk menghadapi tantangan. Namun, dinamika politik di Washington dan sikap keras Trump terhadap sekutu menuntut diplomasi yang lebih intensif untuk menjaga kohesi aliansi di masa depan.











