Keuangan.id – 27 April 2026 | Bank Indonesia (BI) terus menekankan pentingnya mitigasi risiko melalui pelaksanaan stress test bagi seluruh lembaga perbankan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengukur ketahanan sistem keuangan dalam menghadapi skenario ekonomi yang tidak menentu.
Tujuan utama stress test
Stress test dirancang untuk mengidentifikasi potensi kerentanan pada neraca bank apabila terjadi penurunan tajam pada indikator makroekonomi, seperti pertumbuhan PDB, inflasi, atau nilai tukar. Hasilnya membantu regulator dan manajemen bank dalam menyiapkan strategi penyesuaian modal serta memperkuat likuiditas.
- Mengukur dampak penurunan pertumbuhan ekonomi pada kredit macet.
- Menilai risiko pasar akibat volatilitas nilai tukar.
- Mengidentifikasi tekanan pada likuiditas bank dalam kondisi krisis.
Hasil terbaru stress test perbankan
| Kelompok Bank | Capital Adequacy Ratio (CAR) Setelah Stress | Status |
|---|---|---|
| Bank Besar | ≥ 14,5% | Memadai |
| Bank Menengah | 12,0% – 14,4% | Cukup |
| Bank Kecil | 10,5% – 11,9% | Perlu Penguatan |
Bank yang berada pada kategori “Perlu Penguatan” diharapkan segera meningkatkan modal melalui penerbitan obligasi atau penambahan ekuitas. Selain itu, mereka juga diminta memperketat kebijakan kredit dan meningkatkan cadangan kerugian.
Dengan hasil yang masih positif, regulator menegaskan bahwa perbankan Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk menyerap guncangan ekonomi di masa depan. Namun, BI tetap mengawasi secara ketat perkembangan makroekonomi global dan domestik, serta menyiapkan kebijakan tambahan bila diperlukan.











