Keuangan.id – 29 Maret 2026 | Teheran mengumumkan kesiapan strategi pertahanan berlapis yang dirancang khusus untuk menangkis kemungkinan invasi darat yang diperkirakan akan dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat dan sekutu Zionisnya. Pengumuman ini muncul bersamaan dengan laporan Pentagon yang menyatakan bahwa militer Amerika sedang menyiapkan skenario operasi darat terbatas di wilayah Iran, dengan perkiraan durasi beberapa pekan hingga beberapa bulan.
Delapan lapisan pertahanan yang dirinci oleh militer Iran
Seorang pejabat tinggi Angkatan Bersenjata Iran menjelaskan bahwa pertahanan negara akan ditempatkan dalam delapan tingkatan yang saling terintegrasi, mencakup unit khusus, brigade udara, dan pasukan darat konvensional. Berikut adalah rangkaian lapisan tersebut:
- Lapisan 1: Pasukan Khusus Angkatan Laut IRGC (SNSF) dan Pasukan Ranger Angkatan Laut (SBS) yang ditempatkan di pulau‑pulau strategis Teluk Persia untuk mencegat penyusupan udara maupun laut.
- Lapisan 2: Brigade NOHED ke‑65, satuan khusus lintas udara yang dilengkapi dengan helikopter serang dan sistem pertahanan udara berkapasitas tinggi.
- Lapisan 3: Brigade Pasukan Khusus IRGC yang beroperasi di wilayah pesisir, didukung oleh kendaraan lapis baja dan artileri berat.
- Lapisan 4: Empat brigade Angkatan Darat lengkap yang berperan sebagai penahan utama pada titik‑titik kunci daratan, termasuk daerah perbatasan barat dan selatan.
- Lapisan 5: Divisi Lintas Udara (termasuk Brigade Lintas Udara ke‑25, ke‑35, ke‑45, dan ke‑55) yang dapat melakukan serangan cepat ke posisi musuh.
- Lapisan 6: Divisi Takavar (Ranger) ke‑58 yang terlatih untuk operasi gerilya di medan berbukit dan gurun.
- Lapisan 7: Divisi Infanteri Gunung yang menempati wilayah pegunungan strategis untuk mengendalikan jalur pasokan musuh.
- Lapisan 8: Korps Pasukan Khusus Fatehin yang memiliki kemampuan operasi di daerah perkotaan serta dukungan intensif dari kekuatan udara dan artileri berat.
Setiap lapisan dilengkapi dengan sistem pertahanan udara modern, drone pengintai, serta persenjataan anti‑tank dan anti‑personel. Penempatan unit‑unit ini di pulau strategis, kawasan pesisir Teluk, serta daerah pegunungan memastikan bahwa setiap upaya penyerangan akan menghadapi perlawanan bertahap yang meningkat secara signifikan.
Rencana operasi darat terbatas Amerika Serikat
Sementara Iran memperkuat pertahanan, Pentagon mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan opsi operasi darat terbatas di Iran. Menurut laporan pers Pentagon yang dikutip oleh Anadolu Agency pada 29 Maret 2026, skenario tersebut mencakup penggunaan pasukan khusus serta infanteri konvensional dalam serangan yang dapat berlangsung beberapa pekan. Operasi diperkirakan akan menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, serta wilayah pesisir dekat Selat Hormuz untuk mengamankan jalur pelayaran strategis.
Pejabat Pentagon menegaskan bahwa keputusan akhir masih menunggu persetujuan Presiden, dan bahwa rencana tersebut tidak berarti akan terjadi invasi penuh. Namun, mereka memperingatkan bahwa pasukan AS akan menghadapi risiko tinggi, termasuk serangan drone, rudal, serta ranjau darat yang diperkirakan dipersiapkan oleh militer Iran.
Konsekuensi geopolitik dan respon publik
Ketegangan yang memuncak sejak serangan udara bersama AS‑Israel pada akhir Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, telah memicu balasan Iran berupa serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara‑negara Teluk yang menampung aset militer Amerika. Lebih dari 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 terluka dalam serangkaian serangan di kawasan.
Survei opini publik di Amerika Serikat menunjukkan 62 persen warga menolak pengerahan pasukan darat ke Iran, sementara hanya 12 persen yang mendukung langkah tersebut. Di sisi lain, publik Iran memperlihatkan semangat patriotik yang tinggi, dengan media lokal menyiapkan propaganda yang menegaskan bahwa pasukan invader akan “pulang dalam peti mati”.
Analisis militer
Para analis menilai bahwa delapan lapisan pertahanan Iran memberikan hambatan signifikan bagi setiap operasi darat terbatas. Kemampuan Iran dalam meluncurkan serangan drone secara intensif, serta keberadaan brigade anti‑tank yang tersebar di wilayah strategis, dapat mengurangi efektivitas pasukan AS yang mengandalkan mobilitas cepat. Michael Eisenstadt, seorang pakar militer, menyoroti bahwa risiko tinggi terhadap pasukan darat dapat membuat operasi tersebut “lebih berbahaya daripada fase awal konflik yang berlangsung hanya empat minggu”.
Jika Amerika memutuskan untuk melanjutkan rencana tersebut, strategi Iran yang terintegrasi—dari pasukan khusus laut hingga brigade gunung—diharapkan dapat menimbulkan kerugian signifikan dan memperpanjang konflik, yang pada gilirannya dapat mengganggu pasar energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dengan kedua belah pihak menyiapkan langkah militer yang terkoordinasi, situasi di wilayah ini tetap berada pada titik didih. Pengembangan lebih lanjut dari kebijakan luar negeri dan diplomasi internasional akan menjadi faktor penentu apakah konflik akan meluas menjadi perang terbuka atau tetap berada pada level konfrontasi terbatas.
