Keuangan.id – 10 April 2026 | Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Alim Setiawan Slamet, menegaskan komitmen kampus dalam tiga bidang utama yang sekaligus mengukir strategi nasional: ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan reformasi seleksi mahasiswa. Pada konferensi pers IPB Run 2026 di Jakarta, 9 April 2026, Alim mengungkap rencana menyiapkan miliaran benih untuk mengantisipasi krisis energi global, sekaligus meluncurkan acara maraton berskala puluhan ribu peserta yang memadukan gaya hidup sehat dengan aksi hijau.
Miliaran Benih untuk Ketahanan Pangan
Menanggapi peringatan Menteri Pertanian tentang potensi resesi global dan krisis pangan, IPB University akan menyediakan sekitar 250 miliar benih kepada pemerintah. Benih ini meliputi varietas padi unggul baru yang dinamakan IPB 9G, atau padi “amfibi” yang dapat tumbuh optimal baik di lahan basah (sawah) maupun kering (gogo). Dengan potensi produksi 10‑11 ton per hektar, varietas ini diharapkan meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan.
Selain padi, tim riset IPB juga mengembangkan benih sayuran, kacang-kacangan, dan kelapa sawit dengan teknologi biointensif. Semua upaya ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang menekankan integrasi peternakan‑perkebunan melalui Sistem Integrasi Sapi‑Kelapa Sawit (SISKA), yang dipimpin oleh Tri Melasari, Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
IPB Run 2026: Lestari untuk Bumi
Acara IPB Run 2026 yang dijadwalkan pada 5 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, mengusung tema “Lestari untuk Bumi”. Puluhan ribu pelari, termasuk alumni, sivitas akademika, dan masyarakat umum, diundang untuk menorehkan langkah di kampus Dramaga yang sebagian besar ditutupi hutan pohon. Fauzi Amro, Ketua Umum Himpunan Alumni IPB sekaligus Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, menargetkan partisipasi 22 ribu pelari serta ribuan relawan.
Setiap peserta akan menerima satu bibit pohon untuk ditanam di rumah, sehingga secara kolektif lebih dari 20 ribu pohon dapat ditanam pasca‑event. Selain itu, sebagian biaya pendaftaran dialokasikan menjadi beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu, menjadikan maraton ini tidak hanya ajang olahraga, tetapi juga gerakan sosial yang memperkuat solidaritas alumni.
Seleksi SNBT 2026 Tanpa Passing Grade
Dalam bidang pendidikan tinggi, IPB University membuka kuota 2.481 tempat pada UTBK SNBT 2026, setara 30 persen dari total daya tampung. Kebijakan terbaru menegaskan bahwa tidak ada nilai passing grade tetap; penerimaan murni didasarkan pada skor UTBK masing‑masing calon. Dr. Utami Dyah Syafitri, Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru, menekankan pentingnya persiapan akademik dan pemilihan program studi yang tepat.
IPB menawarkan 61 program studi, termasuk 44 program sarjana (S1) dan 17 program sarjana terapan (D4). Beberapa jurusan baru yang menonjol antara lain:
- Smart Agriculture
- Bioinformatika
- Sains Biomedis
- Kecerdasan Buatan
- Teknik Mesin
- Teknik Kimia
Mahasiswa dapat mengajukan hingga empat pilihan program, dengan syarat mencantumkan setidaknya satu program D4 untuk memperluas peluang masuk. Pelaksanaan ujian akan berlangsung pada 21‑30 April 2026 di dua lokasi utama: Kampus Dramaga dan Sekolah Vokasi Cilibende, Bogor. Peserta diharapkan mencetak kartu ujian dan melakukan survei lokasi pada 15‑17 April untuk menghindari kesalahan penempatan.
Langkah Efisiensi Energi: Work‑From‑Home
Sebagai bagian dari upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), IPB University mengimplementasikan kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari dalam lima hari kerja sejak 6 April 2026. Kebijakan ini mendapat sambutan positif dari seluruh sivitas akademika dan diharapkan tidak mengurangi produktivitas dosen maupun pegawai.
Dengan menggabungkan tiga inisiatif strategis—produksi benih massal, kegiatan maraton berkelanjutan, dan reformasi seleksi masuk—IPB University menegaskan perannya sebagai pionir dalam ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan pendidikan tinggi yang responsif terhadap tantangan global.
Keberhasilan ketiga program ini akan menjadi tolok ukur penting bagi kebijakan pemerintah dan institusi pendidikan lainnya dalam menavigasi era krisis energi, perubahan iklim, dan persaingan akademik yang semakin ketat.











