Keuangan.id – 22 April 2026 | Pasar otomotif Jepang yang selama ini didominasi oleh produsen dalam negeri kini menghadapi tantangan baru dari pabrikan mobil asal China. Dua teknologi utama, yakni plug‑in hybrid electric vehicle (PHEV) dan range‑extended electric vehicle (REEV), dijadikan senjata strategis untuk menembus konsumen Jepang yang semakin mengutamakan efisiensi dan ramah lingkungan.
Jetour dan Soueast Tampil di Beijing Auto Show 2026
Beijing Auto Show 2026 menjadi panggung debut sekaligus peragaan strategi global Jetour. Untuk pertama kalinya, Jetour menampilkan dua merek dalam satu booth: Jetour dan Soueast. Kedua merek mengusung rangkaian kendaraan PHEV dan REEV yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas modern.
Model unggulan Jetour T1 i‑DM dan T2 i‑DM mengintegrasikan sistem hybrid dengan daya listrik yang dapat diisi ulang melalui colokan eksternal, menjadikan mereka contoh nyata PHEV berkapasitas tinggi. Sementara Jetour G700, meskipun berkarakter off‑road, tetap mengadopsi teknologi elektrifikasi untuk menambah jangkauan tempuh. Di sisi Soueast, mobil S08 DM diposisikan sebagai kendaraan urban REEV yang menawarkan jarak tempuh listrik murni cukup untuk perjalanan harian, sementara mesin bensin kecil berfungsi sebagai generator cadangan.
Semua model tersebut dibalut dalam konsep “Travel+”, sebuah ekosistem yang tidak hanya menjual mobil, melainkan juga komunitas pengguna, layanan kustomisasi, dan kolaborasi budaya. Jetour Club, dengan lebih dari 300 komunitas global, memperkuat ikatan emosional antara konsumen dan merek, sebuah taktik yang diharapkan dapat menarik konsumen Jepang yang menghargai pengalaman berkendara terintegrasi.
Ekspansi ke Indonesia: Langkah Awal Menyusuri Pasar Asia
Sementara Jepang menjadi target utama, pabrikan China juga menyiapkan landasan di pasar Asia Tenggara. Indomobil Group, salah satu distributor otomotif terbesar di Indonesia, mengumumkan masuknya dua merek baru: Leapmotor dan Hongqi. Leapmotor, yang dikenal dengan portofolio EV cerdas, akan meluncurkan model PHEV dan REEV di Agustus 2026, sedangkan Hongqi, merek mewah bersejarah, menyiapkan varian H9 PHEV untuk Juli 2026.
Strategi ini tidak hanya menambah variasi pilihan kendaraan listrik di Indonesia, tetapi juga menciptakan jaringan distribusi yang dapat dijadikan pijakan untuk memasuki pasar Jepang. Kedua merek tersebut menekankan kemampuan software‑defined vehicle, fitur konektivitas tinggi, dan desain premium yang selaras dengan selera konsumen Jepang yang mengutamakan teknologi dan estetika.
Lonjakan Ekspor NEV China Didorong Harga Minyak
Data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA) mengungkapkan bahwa ekspor kendaraan energi baru (NEV) China melonjak tajam pada Maret 2026. Total pengiriman mencapai 349.000 unit, naik 139,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang mengubah preferensi konsumen global ke arah kendaraan listrik.
Produsen utama seperti BYD mencatat penjualan 120.000 unit NEV di pasar luar negeri, sementara Geely melaporkan total ekspor 81.000 unit, dengan 51.000 unit REEV/NEV, menandakan pertumbuhan 479% year‑on‑year. Angka tersebut menegaskan agresivitas produsen China dalam memperluas pangsa pasar global, termasuk Jepang, yang selama ini mengandalkan bahan bakar fosil untuk mobil domestik.
Peluang dan Tantangan di Pasar Jepang
Jepang memiliki regulasi ketat terkait emisi dan standar keselamatan, namun konsumen semakin terbuka pada teknologi PHEV dan REEV yang menawarkan fleksibilitas antara listrik dan bensin. Dengan kebijakan pemerintah Jepang yang menargetkan 30% penjualan mobil listrik pada 2030, pabrikan China melihat celah strategis untuk memperkenalkan model hybrid berdaya tinggi.
Keunggulan kompetitif mereka terletak pada harga yang relatif lebih terjangkau, jaringan layanan yang sedang dibangun melalui kemitraan lokal, serta inovasi perangkat lunak yang dapat di‑update secara over‑the‑air. Namun, tantangan utama tetap pada persepsi kualitas, persaingan dengan produsen lokal seperti Toyota dan Honda, serta kebutuhan untuk menyesuaikan desain dengan selera estetika Jepang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Jetour dan Leapmotor berencana membuka pusat layanan khusus di kota‑kota utama Jepang, serta meluncurkan program test‑drive eksklusif bagi konsumen premium. Upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan dan memperkenalkan keunggulan PHEV serta REEV sebagai solusi mobilitas masa depan.
Secara keseluruhan, kombinasi inovasi produk, strategi pemasaran berbasis komunitas, dan dorongan ekspor NEV memberikan pabrikan mobil China landasan kuat untuk menantang dominasi Jepang. Jika tren harga minyak terus naik dan regulasi lingkungan semakin ketat, peluang PHEV dan REEV sebagai senjata utama akan semakin menguat, menjanjikan persaingan yang lebih dinamis di pasar otomotif Asia.











