Keuangan.id – 21 April 2026 | Jakarta, 21 April 2026 – Pengusaha muda berusia 26 tahun, Insanul Fahmi, akhirnya mengungkap alasan di balik pernyataan bahwa ia hanya mampu memberikan nafkah sebesar Rp1 juta per bulan untuk putranya. Pernyataan tersebut sempat menjadi sorotan publik setelah muncul tuntutan dari mantan istrinya, Wardatina Mawa, yang menginginkan Rp30 juta tiap bulan.
Emosi Sesaat Menjadi Pemicu Pernyataan
Menurut kuasa hukum Insan, Tommy Tri Yunanto, kata-kata “Rp1 juta” adalah bentuk pelampiasan emosi yang terjadi saat Insan merasa dipersulit untuk bertemu sang anak sejak Lebaran lalu. “Insan sempat kesal karena sejak Lebaran kemarin ia tidak dapat bertemu anaknya,” ujar Tommy dalam konferensi pers di Tangerang Selatan, Banten, pada 20 April 2026.
Komitmen Tanpa Batas untuk Kebutuhan Anak
Tommy menegaskan bahwa pada dasarnya Insanul tetap berkomitmen memenuhi semua kebutuhan putranya tanpa memperhatikan nominal. “Intinya, Insan bakal menyanggupi besaran nafkah untuk anak kalau memang itu kebutuhannya,” tegasnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa angka Rp1 juta bukanlah batas akhir, melainkan reaksi spontan yang tidak mencerminkan posisi finansial sang ayah.
Perbaikan Hubungan di Tengah Proses Hukum
Hubungan antara Insanul dan Wardatina mulai menunjukkan perbaikan, meski keduanya masih berada dalam proses hukum terkait dugaan perzinaan dan perceraian. Mawa kini tidak lagi membatasi pertemuan Insan dengan anak mereka. “Jumat kemarin, Insan ketemu anaknya dan menghabiskan waktu bersama. Ya, kami cukup senang dengan perubahan ini,” kata Tommy menambahkan.
Faktor Finansial dan Tantangan Hukum
Meski Insanul menjalankan usaha yang menengah ke atas, ia mengaku menghadapi tekanan finansial akibat biaya pengacara dan proses perceraian yang panjang. Hal ini memperparah rasa frustrasi yang pada akhirnya memunculkan pernyataan singkat tentang nafkah. Namun, Tommy menegaskan bahwa Insanul siap menyesuaikan besaran nafkah sesuai kebutuhan nyata anaknya, asalkan tidak ada unsur paksaan.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Berita tentang nafkah Rp1 juta cepat menyebar di media sosial, memicu perdebatan publik tentang kewajiban orang tua dan hak anak. Beberapa netizen menilai pernyataan Insanul sebagai bentuk tanggung jawab, sementara yang lain menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih baik antara kedua orang tua demi kesejahteraan anak.
Langkah Kedepan
Ke depannya, Insanul berencana meningkatkan dialog dengan Mawa melalui mediasi, sekaligus memperkuat posisi keuangan melalui diversifikasi usaha. Sementara itu, kuasa hukumnya terus menegosiasikan penyelesaian yang adil dan berkelanjutan, termasuk penetapan nafkah yang realistis dan terukur.
Dengan segala dinamika yang ada, satu hal yang tetap jelas: Insanul Fahmi tidak berniat mengabaikan hak anaknya. Baik melalui pernyataan emosional maupun komitmen nyata, ia berusaha menyeimbangkan peran sebagai ayah di tengah situasi hukum yang kompleks.











