Keuangan.id – 01 April 2026 | Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2026 inflasi Indonesia tercatat sebesar 0,41 % secara bulanan, yang tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 110,95 dibandingkan 110,57 pada Februari 2026.
Inflasi bulan itu didorong terutama oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat kenaikan 0,7 %, menyumbang 0,32 % terhadap total inflasi. Komoditas utama yang berperan adalah ikan segar, daging ayam ras, serta beras. Masing‑masing memberikan kontribusi 0,06 % (ikan segar dan ayam ras) dan 0,03 % (beras) terhadap inflasi.
- Ikan segar: +0,06 %
- Daging ayam ras: +0,06 %
- Beras: +0,03 %
- Telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, daging sapi: masing‑masing +0,02 %
- Bensin: +0,04 %
- Tarif angkutan antarkota: +0,03 %
Beberapa komoditas memberikan tekanan deflasi, antara lain tarif angkutan udara dan emas perhiasan yang masing‑masing menyumbang –0,03 %.
Jika dilihat per komponen, komponen harga bergejolak mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,58 % (deflasi –0,27 %). Komoditas yang paling memengaruhi komponen ini meliputi daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi. Komponen inti naik 0,13 % dengan kontribusi utama dari minyak goreng dan nasi dengan lauk. Komponen harga yang diatur pemerintah naik 0,31 %; penyumbang utama adalah bensin, tarif angkutan antarkota, dan sigaret kretek mesin.
Secara geografis, 34 provinsi mencatat inflasi, sementara 4 provinsi mengalami deflasi. Provinsi dengan inflasi tertinggi adalah Papua Pegunungan (2,57 %), sedangkan provinsi dengan deflasi terparah adalah Maluku (–0,75 %).
| Wilayah | Inflasi/Deflasi |
|---|---|
| Papua Pegunungan | +2,57 % |
| Maluku | –0,75 % |
Dengan pola kenaikan harga pada barang kebutuhan pokok dan beberapa barang bergejolak, BPS memperkirakan bahwa tekanan inflasi masih perlu dipantau, terutama pada komoditas pangan yang berkontribusi signifikan terhadap pergerakan harga konsumen.











