Keuangan.id – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Pemerintah Indonesia bersama lembaga internasional dan pemerintah daerah memperkuat langkah strategis dalam mengatasi krisis sampah. Dari ide kreatif daur ulang plastik di rumah hingga program ambisius kota nol sampah, rangkaian inisiatif ini menunjukkan sinergi antara ekonomi sirkular, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat.
Di tingkat rumah tangga, muncul gelombang inovasi yang mengubah limbah plastik menjadi produk bernilai. Warga kini memanfaatkan kantong plastik bekas menjadi pot tanam, keranjang penyimpanan, atau bahkan bahan baku pembuatan furnitur sederhana. Ide-ide tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menurunkan pengeluaran keluarga untuk barang konsumen. Dengan harga perabot plastik yang melambung 15‑25 % di kota‑kota besar seperti Semarang, dan bahkan mencapai 100 % di daerah terpencil seperti Nunukan, solusi hemat berbasis daur ulang menjadi sangat relevan secara ekonomi.
Penguatan Kebijakan di Tingkat Daerah
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan komitmen nasional melalui program percontohan di beberapa wilayah. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, KLH mendorong kota tersebut menjadi role model pengelolaan sampah terpadu. Wali Kota Christian Widodo bersama Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH, Haruki Agustina, menyoroti peningkatan rasio pengelolaan sampah dari 41,93 % menjadi 50,8 % dalam penilaian terbaru. Target nasional menginginkan peningkatan tambahan 15 poin, dan KLH siap memberikan pendampingan SDM, penyuluhan, serta kolaborasi dengan sektor swasta.
Di Kalimantan Selatan, KLH juga menekan pemerintah daerah agar proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dimasukkan ke dalam dokumen rencana pembangunan daerah (RPD). Proyek ini, yang mengubah sampah menjadi energi panas dan selanjutnya listrik, direncanakan beroperasi selama 30 tahun. Kerjasama antara Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala diharapkan menjamin pasokan sampah yang stabil, perawatan instalasi, dan integrasi dengan pengelolaan air limbah (IPAL).
Implementasi Operasional di Jakarta Timur
Di tingkat operasional, Satuan Penanganan Sampah (TPS) di Pekayon, Pasar Rebo, berhasil menangani 120 ton sampah per hari. Enam truk tipper berkapasitas 10 ton masing‑masing melakukan dua kali perjalanan, mengirimkan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Sistem ini diperkokoh dengan program pemilahan sampah di sumber, dimana tiap RW memiliki bank sampah dan sejumlah masjid turut serta. Pendekatan ini menurunkan volume sampah yang harus dibuang ke TPST dan meningkatkan kualitas material yang masuk ke fasilitas energi PSEL.
Pengakuan Internasional
Langkah‑langkah tersebut sejalan dengan tren global. Dewan Penasihat PBB, bersama UN‑Habitat dan UNEP, memilih 20 kota dunia sebagai pionir nol sampah dalam program “20 Cities Towards Zero Waste”. Kota-kota seperti San Francisco, Hangzhou, dan Yokohama menampilkan kebijakan pengurangan produk sekali pakai, kompos organik, dan model daur ulang yang melibatkan pemulung. Pengalaman mereka menjadi referensi bagi kota‑kota Indonesia untuk mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular.
Para pakar menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya terletak pada perencanaan, melainkan pada eksekusi yang konsisten. “Keberanian kota‑kota ini terletak pada tindakan nyata, mulai dari pemilahan sampah di rumah hingga integrasi energi terbarukan,” ujar José Manuel Moller, Wakil Ketua Dewan Penasihat PBB.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
- Pengurangan biaya pengelolaan sampah bagi pemerintah daerah melalui pemanfaatan kembali material.
- Penciptaan lapangan kerja di sektor daur ulang dan energi terbarukan.
- Penurunan emisi gas rumah kaca akibat berkurangnya pembakaran sampah terbuka.
- Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya.
Dengan kombinasi inovasi rumah tangga, dukungan kebijakan terpusat, dan contoh sukses internasional, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mengatasi tantangan sampah secara holistik. Upaya bersama antara pemerintah, sektor swasta, dan warga menjadi kunci utama dalam mewujudkan lingkungan yang bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Jika momentum ini terus dipertahankan, Indonesia dapat menjadi contoh regional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDG) 11, 12, dan 13.









