Keuangan.id – 25 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menempati zona merah pada sesi perdagangan Jumat, 24 April 2026. Indeks tersebut melemah sebesar 3,06 persen, atau turun 225,75 poin, ke level 7.152,85. Penurunan ini menambah catatan penurunan tahunan sebesar 17,28 persen sejak awal tahun.
Penurunan IHSG dan Dampaknya
Data RTI Business menunjukkan bahwa volume perdagangan pada sesi pertama mencapai 28,63 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,24 triliun. Penurunan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif global, termasuk aksi jual bersih oleh investor asing yang tercatat sebesar Rp 978,65 miliar pada hari tersebut. Sejak awal tahun, net foreign sell IHSG telah menembus angka Rp 40,80 triliun, menandakan tekanan luar negeri yang kuat.
Saham-saham Terpuruk, Fokus pada CDIA
Sejumlah saham konglomerat masuk dalam jajaran top losers. Di antara mereka, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) tercatat mengalami penurunan terbesar, hampir 10 persen, dengan harga per lembar mencapai Rp 1.000. Penurunan CDIA sebesar 9,91 persen menempatkannya di urutan teratas daftar saham yang paling lemah. Saham lain yang ikut terpuruk meliputi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 9,78 persen hingga Rp 2.030 per lembar.
CDIA merupakan bagian dari konglomerasi yang dikelola oleh pengusaha ternama Prajogo Pangestu, yang memiliki diversifikasi usaha di bidang perkebunan, energi, dan infrastruktur. Penurunan tajam CDIA diperkirakan dipicu oleh kombinasi faktor, antara lain ketidakpastian regulasi di sektor energi, penurunan harga komoditas utama, serta tekanan likuiditas yang timbul dari aksi jual asing secara massal.
- Harga penutupan CDIA: Rp 1.000 per lembar
- Penurunan: -9,91 persen
- Volume perdagangan CDIA: meningkat 35 persen dibandingkan rata-rata harian
Reaksi Investor dan Outlook
Investor institusional dan ritel tampak berhenti sejenak, tercermin dari rendahnya partisipasi pembeli pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, dan BMRI yang masing-masing juga mengalami penurunan signifikan. Secara keseluruhan, tercatat 642 saham melemah, hanya 90 saham yang menguat, dan 82 saham lainnya bergerak stagnan.
Para analis memperkirakan bahwa tekanan jual dapat berlanjut jika data ekonomi global, khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat, tetap mengarah pada pengetatan. Selain itu, volatilitas harga komoditas energi dan logam juga menjadi faktor yang dapat memperparah sentimen negatif di pasar domestik.
Namun, beberapa sektor masih menunjukkan potensi penopangan, terutama di bidang teknologi finansial dan e‑commerce, yang diperkirakan akan mendapatkan dukungan dari kebijakan pemerintah terkait digitalisasi ekonomi. Bagi investor yang mempertimbangkan strategi jangka menengah, rekomendasi utama adalah menunggu konfirmasi perbaikan pada indikator likuiditas serta perkembangan kebijakan eksternal sebelum menambah posisi pada saham-saham yang mengalami penurunan tajam.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia sedang berada dalam fase koreksi yang dipengaruhi oleh aliran modal asing dan dinamika ekonomi global. Ke depan, pergerakan IHSG dan saham-saham utama seperti CDIA akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter internasional, data inflasi, serta perkembangan sektor energi dan komoditas.











