Keuangan.id – 08 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menguji level 6.800 dalam beberapa sesi ke depan, menandai tekanan bearish yang cukup kuat di pasar modal Indonesia. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, seperti volatilitas pasar global, serta sentimen domestik yang masih dipengaruhi oleh data ekonomi terbaru.
Berbagai analis pasar menilai bahwa pergerakan ke arah level 6.800 bukanlah akhir dari tren turun, melainkan peluang bagi investor yang siap menerapkan strategi buy on weakness. Strategi ini mengharapkan pembelian saham pada saat harga melemah, dengan harapan pemulihan jangka menengah.
Berikut empat saham yang mendapat rekomendasi kuat untuk dibeli pada kondisi melemah tersebut:
- AKRATARA (AKRA) – Perusahaan di sektor pertambangan logam mulia ini menunjukkan fundamental yang solid, dengan margin laba kotor yang stabil dan prospek penambangan yang masih luas.
- Bank Rakyat Indonesia (BMRI) – Sebagai bank terbesar di Indonesia, BMRI memiliki basis nasabah yang kuat dan rasio NPL yang relatif rendah, menjadikannya pilihan defensif di tengah volatilitas.
- Ciputra Medical REIT (CMRY) – REIT yang fokus pada properti kesehatan ini menawarkan dividend yield yang menarik serta eksposur pada sektor kesehatan yang relatif tahan resesi.
- Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) – Meskipun berada di sektor pulp & kertas yang sensitif terhadap siklus ekonomi, INKP memiliki biaya produksi yang kompetitif dan pasar ekspor yang luas.
Para analis menekankan pentingnya melakukan entry point yang tepat. Mereka menyarankan pembelian pada saat harga menembus level support masing‑masing saham, serta menyiapkan stop‑loss di dekat level resistance terdekat untuk melindungi modal.
Investor juga disarankan untuk tetap memantau data ekonomi utama, seperti inflasi, nilai tukar Rupiah, serta kebijakan moneter Bank Indonesia. Perubahan pada indikator‑indikator tersebut dapat mempercepat pergerakan IHSG ke arah yang lebih rendah atau sebaliknya.
Dengan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental, serta menerapkan disiplin manajemen risiko, para pelaku pasar dapat memanfaatkan penurunan IHSG sebagai peluang untuk menambah posisi pada saham-saham unggulan tersebut.











