IHSG Diproyeksi Melemah: Ketegangan Iran‑AS Bikin Pasar Bergolak, Ini Rekomendasi Saham Pilihan

IHSG Diproyeksi Melemah: Ketegangan Iran‑AS Bikin Pasar Bergolak, Ini Rekomendasi Saham Pilihan
IHSG Diproyeksi Melemah: Ketegangan Iran‑AS Bikin Pasar Bergolak, Ini Rekomendasi Saham Pilihan

Keuangan.id – 23 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi akan bergerak lemah pada sesi perdagangan Kamis, 23 April 2026, di tengah ketidakpastian yang dipicu oleh perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun ada sinyal peredaan konflik, pasar masih merasakan tekanan karena penutupan Selat Hormuz yang berlarut‑larut serta kebijakan blokade kapal di kawasan tersebut.

Proyeksi Nilai IHSG

Berbagai analis pasar menilai IHSG berpotensi berkontraksi dalam kisaran 7.500‑7.600 poin pada pembukaan Kamis. Penutupan hari sebelumnya mencatat penurunan 17,77 poin atau 0,24 persen, menandakan momentum negatif yang masih berlanjut. Sementara proyeksi lain menunjukkan area koreksi terdekat dapat menguji level 7.245‑7.447, dengan kemungkinan pengujian kembali zona resistansi 7.580‑7.601 jika sentimen kembali membaik.

Faktor Geopolitik dan Dampaknya pada Energi

Perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu memberikan sinyal sementara bahwa konfrontasi militer mereda. Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena penutupan Selat Hormuz—jalur penting bagi aliran minyak mentah—memungkinkan harga minyak tetap berada pada level tinggi. Biaya energi yang meningkat berpotensi menambah beban pemerintah, perusahaan, dan konsumen domestik, yang pada gilirannya dapat menekan profitabilitas sektor‑sektor yang sensitif terhadap biaya energi.

Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI‑Rate) pada level 4,75 persen. Deposit Facility Rate dipertahankan di 3,75 persen, sementara Lending Facility Rate tetap pada 5,5 persen. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal serta menjaga inflasi tetap terkendali.

Performansi Sektor dan Volume Perdagangan

Data IDX‑IC menunjukkan delapan sektor menguat pada sesi Rabu, dengan sektor transportasi & logistik memimpin naik 4,30 persen. Sektor barang konsumen non‑primer dan infrastruktur masing‑masing mencatat kenaikan 1,22 persen dan 1,11 persen. Sebaliknya, sektor barang baku dan energi mengalami koreksi ringan, masing‑masing turun 0,45 persen dan 0,01 persen.

Frekuensi perdagangan mencapai 2,948,972 transaksi, dengan total nilai transaksi sebesar Rp18,14 triliun. Saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar meliputi COAL, KOTA, BDMN, HOPE, dan TALF, sementara KICI, DEFI, LCKM, DSSA, dan BREN mengalami penurunan paling tajam.

Rekomendasi Saham Pilihan

  • BBTN – Bank Banten, dipilih karena fundamental yang kuat dan dukungan kebijakan moneter.
  • PNLF – PT Pupuk Kalimantan Timur, mendapat sorotan karena prospek permintaan pupuk global.
  • MIDI – PT Midi Utama, diperkirakan akan mendapat manfaat dari pemulihan logistik.
  • ASII – Astra International, tetap menjadi pilihan bagi investor yang mengincar diversifikasi.
  • RAJA – Rajawali Corp, menarik karena eksposur ke sektor energi terbarukan.
  • ACES – Ace Hardware Indonesia, rekomendasi MNC Sekuritas untuk potensi pertumbuhan retail.
  • BMRI – Bank Mandiri, dipilih untuk kestabilan dividend dan likuiditas tinggi.
  • GOTO – Gojek Tokopedia, tetap menjadi fokus karena ekosistem digital yang berkembang.

Analisis Teknis dan Strategi Speculative Buy

Menurut riset BNI Sekuritas, saham-saham seperti BDMN, MEDC, BUMI, CUAN, PTRO, dan GZCO menawarkan peluang speculative buy dengan area beli masing‑masing di kisaran harga yang telah ditetapkan. Target profit dan level cut‑loss disusun secara konservatif untuk melindungi modal investor.

Outlook Pasar Selanjutnya

Jika IHSG gagal menembus level resistansi 7.600, risiko koreksi lanjutan menuju support 7.450‑7.500 tetap signifikan. Sebaliknya, penguatan yang konsisten dapat membuka peluang bagi indeks untuk menguji zona 7.580‑7.601. Faktor eksternal seperti pergerakan Wall Street, keputusan kebijakan moneter lanjutan, serta dinamika geopolitik di Selat Hormuz akan terus menjadi penentu utama arah pergerakan IHSG.

Investor disarankan untuk tetap mengawasi perkembangan berita geopolitik, data ekonomi domestik, serta kebijakan BI. Diversifikasi portofolio ke saham-saham dengan fundamental kuat dan eksposur sektor yang kurang terpengaruh oleh fluktuasi energi dapat menjadi strategi defensif yang tepat dalam kondisi pasar yang masih bergolak.

Exit mobile version