Keuangan.id – 04 Mei 2026 | PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) memperingatkan bahwa lonjakan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dapat meningkatkan risiko gagal bayar BNPL. Pertumbuhan layanan ini sangat agresif, menimbulkan tantangan bagi regulator dan pelaku industri.
Pertumbuhan BNPL yang Pesat
Dalam dua tahun terakhir, total transaksi BNPL di Indonesia diperkirakan meningkat lebih dari 150%, didorong oleh kemudahan akses dan promosi dari e‑commerce. Konsumen kini dapat menunda pembayaran hingga 30 hari atau lebih tanpa bunga, namun kebijakan ini juga membuka peluang penumpukan hutang.
Faktor‑faktor Penyebab Risiko
- Penawaran kredit tanpa analisis mendalam terhadap kemampuan bayar.
- Konsumen yang kurang paham syarat dan konsekuensi keterlambatan.
- Penyedia layanan yang bersaing ketat, mengurangi standar underwriting.
- Kurangnya data historis untuk menilai perilaku pembayaran di segmen baru.
Dampak Bagi Semua Pihak
Jika risiko gagal bayar BNPL tidak dikelola, dapat menimbulkan kerugian finansial bagi penyedia, menurunkan kepercayaan pasar, dan meningkatkan beban pada lembaga pemeringkat kredit.
Rekomendasi IdScore
- Memperketat kriteria kelayakan kredit sebelum memberikan fasilitas BNPL.
- Mengedukasi konsumen mengenai konsekuensi keterlambatan pembayaran.
- Menetapkan batas maksimal pinjaman berdasarkan histori kredit.
- Kolaborasi dengan regulator untuk standar transparansi tarif dan denda.
Dengan langkah‑langkah tersebut, diharapkan pertumbuhan BNPL tetap berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan kredit yang berbahaya.
