Keuangan.id – 20 April 2026 | Beirut, 20 April 2026 – Gencatan senjata selama sepuluh hari yang ditandatangani antara Israel dan Lebanon pada tengah malam 16‑17 April menjadi sorotan utama setelah pihak Israel melanjutkan serangan di wilayah selatan Lebanon. Pihak Hizbullah melalui juru bicara seniornya, Naim Qassem, menegaskan bahwa pelanggaran tersebut akan memicu respons militer yang setara, sekaligus mengajukan lima tuntutan utama untuk menegakkan perdamaian yang berkelanjutan.
Reaksi Hizbullah terhadap pelanggaran gencatan senjata
Dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan lewat jaringan televisi Al‑Manar pada Sabtu (18/4), Qassem menolak konsep “gencatan senjata satu arah” dan menekankan bahwa tidak ada jeda tembak yang dapat diberikan hanya oleh satu pihak. Ia menambahkan, “Jika Israel melanggar, Hizbullah akan membalas dengan cara yang sesuai.”
Qassem memaparkan lima langkah utama yang harus dipenuhi Israel sebagai prasyarat berakhirnya konflik secara permanen:
- Penghentian total pertempuran di seluruh wilayah Lebanon.
- Penarikan penuh pasukan militer Israel dari zona perbatasan.
- Pembebasan semua tahanan yang ditahan selama konflik.
- Kembalinya warga pengungsi ke rumah masing‑masing.
- Rekonstruksi wilayah selatan dengan dukungan Arab dan internasional.
Ia menegaskan Hizbullah belum dikalahkan dan siap bekerja sama dengan pemerintah Lebanon untuk memperkuat persatuan nasional serta menjaga kedaulatan negara.
Langkah militer Israel di perbatasan selatan
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa pada hari Sabtu mereka menembak militan yang mendekati “garis kuning” – batas zona keamanan yang ditetapkan di Lebanon selatan. Selain itu, IDF mengerahkan unit rekayasa untuk membangun pos militer baru di dekat desa Kfarchouba, dengan menggunakan buldoser, ekskavator, dan tank Merkava sebagai perlindungan.
Saksi mata mengonfirmasi bahwa pekerjaan tersebut meliputi perataan tanah, penggalian, dan pembangunan tanggul di bukit Rbaa al‑Teben, sekitar 1,5 km dari garis demarkasi. Aktivitas ini menandakan intensifikasi kehadiran militer Israel di wilayah yang selama ini menjadi zona sensitif.
Kondisi warga Lebanon di zona konflik
Ratusan ribu warga Lebanon selatan kembali ke rumah mereka pada 16 April setelah masa penampungan di kamp pengungsi. Meskipun sebagian memilih kembali ke Beirut karena kekhawatiran akan eskalasi konflik, banyak yang berusaha memperbaiki kerusakan rumah dan ladang zaitun. Situasi ini mencerminkan ketidakpastian publik mengenai keberlanjutan gencatan senjata.
Di samping itu, pernyataan Qassem menegaskan kesiapan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan lembaga‑lembaga negara Lebanon, termasuk militer dan keamanan, guna memperkuat pertahanan nasional bila diperlukan.
Pengamat politik menilai bahwa tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat yang menjadi mediator, belum cukup untuk menjamin kepatuhan Israel terhadap kesepakatan. Sementara itu, Iran tetap menjadi pendukung utama Hizbullah, memberi sinyal bahwa kelompok tersebut akan terus menahan agresi Israel bila diperlukan.
Dengan gencatan senjata yang masih dalam fase awal, dinamika di perbatasan selatan Lebanon diperkirakan akan menjadi indikator utama apakah kedua belah pihak dapat menahan diri atau akan kembali ke konfrontasi terbuka.
Jika Israel melanggar ketentuan yang telah disepakati, Hizbullah siap melancarkan serangan balasan yang dapat meningkatkan ketegangan di seluruh kawasan Levant, berpotensi menimbulkan dampak geopolitik lebih luas.











