Keuangan.id – 08 Mei 2026 | Selat Hormuz kembali memanas dengan dinamika baru yang melibatkan kebijakan ketat dari Tehran dan langkah mendadak dari Washington. Iran secara resmi telah meluncurkan mekanisme baru untuk mengawasi lalu lintas maritim di jalur air strategis tersebut.
Langkah ini diambil di tengah ketegangan yang masih berlanjut dengan Amerika Serikat terkait kontrol atas salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Setiap kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Otoritas Selat Teluk Persia.
Kapal-kapal yang berencana melakukan transit akan menerima email berisi aturan yang harus dipatuhi agar bisa mengantongi izin melintas. Meskipun detail spesifik mengenai persyaratan izin tersebut belum diungkap ke publik, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa sistem baru ini sedang dalam proses pemantapan.
Selain prosedur perizinan, Iran juga dikabarkan tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang cukup radikal di parlemen. Aturan tersebut direncanakan akan melarang kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Israel untuk melintasi selat, memberikan batasan ketat bagi kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, serta memberlakukan biaya transit bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap tidak bermusuhan.
Langkah ini menjadi respons atas blokade pelabuhan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran yang telah membuat banyak kapal tanker terdampar selama lebih dari dua bulan. Menariknya, kebijakan baru Iran ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan menghentikan sementara "Project Freedom".
Program ini merupakan misi pengawalan militer bagi kapal-kapal berbendera Barat yang baru saja diluncurkan dua hari sebelumnya. Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa penangguhan ini dilakukan atas permintaan Pakistan dan negara-negara lain untuk menguji prospek kesepakatan damai.
Meski pengawalan militer dihentikan, Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan final tercapai. Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak pasca penangguhan misi militer AS.
Negara-negara Teluk mulai mempertimbangkan jalur pipa baru untuk menghindari Selat Hormuz yang semakin tidak stabil. Kondisi ini membuka peluang bagi negara-negara lain untuk mengambil peran dalam pasar energi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan di Selat Hormuz telah meningkat, yang berdampak pada harga minyak dan stabilitas pasar energi global. Oleh karena itu, penting untuk memantau situasi di Selat Hormuz dan memahami implikasinya pada pasar energi global.
Dalam beberapa minggu terakhir, situasi di Selat Hormuz semakin memanas, dengan Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam permainan ketegangan yang semakin meningkat. Oleh karena itu, penting untuk memantau situasi di Selat Hormuz dan memahami implikasinya pada pasar energi global.











