Harga Pangan Global Terus Naik Akibat Konflik Iran, Peringatan FAO

Harga Pangan Global Terus Naik Akibat Konflik Iran, Peringatan FAO
Harga Pangan Global Terus Naik Akibat Konflik Iran, Peringatan FAO

Keuangan.id – 06 Mei 2026 | FAO memperingatkan dunia bahwa harga pangan global akan terus naik jika perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak segera berakhir. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga energi, gangguan pada jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, serta tekanan inflasi yang meluas ke seluruh rantai pasok makanan.

Peringatan FAO dan Analisis Risiko

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa (FAO) menegaskan bahwa konflik yang berlarut‑larut dapat menambah beban pada ketahanan pangan internasional. Menurut data internal, harga komoditas pangan utama seperti gandum, jagung, dan kedelai sudah mengalami peningkatan signifikan sejak akhir Februari 2026, ketika serangan militer pertama kali diluncurkan.

Dampak pada Harga Pangan Global

Ketika harga minyak mentah naik di atas US$125 per barel, biaya produksi pupuk dan transportasi naik sejalan. Pupuk berbasis nitrogen, fosfat, dan kalium sangat bergantung pada gas alam sebagai bahan baku. Kenaikan biaya tersebut langsung diteruskan ke petani, yang pada gilirannya menaikkan harga jual hasil panen.

Di pasar internasional, gandum hitam dan gandum keras menunjukkan kenaikan harga lebih dari 12 persen dalam dua bulan terakhir. Harga beras di Asia Tenggara juga tertekan naik sekitar 8 persen, sementara harga daging dan produk susu mengikuti tren yang sama karena meningkatnya biaya pakan ternak.

Keterkaitan dengan Inflasi dan Energi

Data IMF mengindikasikan bahwa jika konflik berlanjut hingga 2027, inflasi global dapat melambung di atas 5 persen. Kenaikan harga energi menimbulkan efek berantai: biaya transportasi laut dan darat naik, biaya pengemasan plastik meningkat, dan konsumen akhir merasakan tekanan pada belanja harian.

Steve Zurek, wakil presiden tim analitik lanjutan NielsenIQ, mencatat bahwa harga plastik PET di Eropa naik 15,4 persen pada pertengahan Maret 2026. Kenaikan serupa terlihat di Amerika Utara, dengan polyethylene melonjak hampir 30 persen. Karena plastik banyak dipakai dalam kemasan makanan, kenaikan ini menambah beban pada harga barang konsumsi.

Proyeksi hingga 2027

FAO memperkirakan bahwa bila konflik tidak menemukan solusi diplomatik dalam enam bulan ke depan, harga pangan global dapat terus meningkat rata‑rata 3‑4 persen per kuartal. Dampak paling terasa di negara‑negara importir pangan seperti Filipina, Mesir, dan Yaman, yang sudah berada di ambang krisis pangan.

Sementara itu, IMF menekankan bahwa kebijakan moneter yang ketat dan stimulus fiskal terbatas akan memperparah situasi. Pemerintah diharapkan memperkuat cadangan pangan strategis dan meningkatkan efisiensi distribusi untuk menahan lonjakan harga.

Langkah Mitigasi yang Diperlukan

  • Meningkatkan produksi domestik melalui subsidi pupuk yang terjangkau.
  • Mengamankan jalur transportasi laut, khususnya Selat Hormuz, dengan pengawasan internasional.
  • Mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional dengan mempromosikan bahan alternatif ramah lingkungan.
  • Memperluas jaringan cadangan pangan strategis untuk menstabilkan pasokan pada masa krisis.

Jika upaya-upaya tersebut tidak dijalankan secara terkoordinasi, risiko kelaparan dan inflasi berlebih dapat mengancam stabilitas ekonomi global. FAO menegaskan perlunya aksi bersama antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional untuk menjaga harga pangan tetap terjangkau dan memastikan ketahanan pangan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *