Keuangan.id – 24 April 2026 | Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang tidak serempak menimbulkan efek berantai di seluruh sektor ekonomi Indonesia. Pemerintah menahan harga Pertamax dan Pertamax Green sementara harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik, memicu pergeseran perilaku konsumen dan menambah tekanan pada inflasi.
Perubahan Pola Konsumsi BBM
Data terbaru menunjukkan penurunan pangsa Pertalite dari 55,7% pada 2024 menjadi 52% pada 2025, sekaligus penurunan volume penjualan harian sebesar 5,3% (dari 81 ribu kiloliter menjadi 76 ribu kiloliter). Sebaliknya, penjualan BBM nonsubsidi meningkat signifikan: Pertamax naik 20,6%, Pertamax Turbo melonjak 76,5%, Dexlite naik 11,7%, dan Pertamina Dex tumbuh 36,4%.
Ekonom INDEF, Abra Talattov, menilai tren ini menandakan proses “upgrading” konsumsi BBM yang sedang berlangsung. Namun, ia memperingatkan bahwa penahanan harga Pertamax dapat memperlebar selisih dengan BBM subsidi, mendorong konsumen beralih kembali ke bahan bakar bersubsidi, terutama di kalangan pengguna kendaraan pribadi.
Risiko Peningkatan Beban Subsidi dan Tekanan Fiskal
Jika pergeseran ke BBM bersubsidi terjadi, beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat meningkat secara signifikan. Abra menyarankan dua langkah utama: percepatan transformasi subsidi agar tepat sasaran, serta pengetatan kriteria pembeli BBM subsidi, termasuk pembatasan kuota harian 50 liter untuk kendaraan pribadi dan penetapan batas desil 1‑6 sebagai penerima manfaat.
Strategi Bank Indonesia Menghadapi Inflasi
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, menyampaikan bahwa inflasi Maret 2026 tetap terkendali pada 3,48% yoy, berada dalam target 2,5% ± 1. Namun, BI mengakui ancaman kenaikan inflasi di masa mendatang akibat harga energi global, gangguan jalur perdagangan, serta risiko cuaca ekstrem seperti El Nino. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI mengoptimalkan jaringan 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia guna memantau perkembangan harga secara real‑time dan menyiapkan kebijakan moneter yang responsif.
Respons Industri Otomotif Terhadap Kenaikan BBM
Di Australia, produsen mobil asal China, Great Wall Motors (GWM), mempercepat produksi varian plug‑in hybrid (PHEV) Tank 300. Kenaikan harga diesel yang kini 1 dolar lebih mahal daripada bensin mendorong konsumen mencari alternatif yang lebih hemat bahan bakar. Direktur Pelaksana GWM Australia‑Selandia Baru, Andrew Gao, mengungkapkan bahwa permintaan Tank 300 PHEV diproyeksikan akan melampaui perkiraan awal, dengan target volume dua kali lipat.
Langkah GWM mencerminkan tren global di mana produsen otomotif menyesuaikan strategi produk untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus memberikan solusi bagi konsumen yang merasakan beban biaya bahan bakar meningkat.
Rekomendasi Kebijakan dan Langkah Selanjutnya
Para ekonom menekankan perlunya kebijakan harga BBM yang konsisten, perlindungan fiskal, dan manajemen permintaan energi menyeluruh. Transformasi subsidi harus dipercepat, dengan digitalisasi pembelian BBM untuk menghindari penyalahgunaan. Sementara itu, sektor industri diharapkan terus mengembangkan teknologi efisiensi energi, seperti kendaraan hibrida dan listrik, untuk meredam beban konsumen dan menurunkan tekanan inflasi.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang tepat, pemantauan harga secara terdesentralisasi, dan inovasi teknologi, Indonesia dapat mengelola dampak harga BBM naik tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
