Keuangan.id – 24 April 2026 | Rupiah kembali melemah dan menembus level 17.300 per dolar AS, menandai titik terendah yang belum lama ini terjadi. Penurunan nilai tukar ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama setelah Kiwoom Securities menyoroti bahwa tekanan domestik semakin nyata.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Tekanan Nilai Tukar
Beberapa elemen fundamental berperan dalam melemahnya Rupiah Jebol, antara lain:
- Inflasi tinggi yang menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya impor.
- Aliran modal keluar akibat perbedaan suku bunga antara Indonesia dan negara-negara maju.
- Defisit neraca perdagangan yang masih berada pada level signifikan, memperburuk kebutuhan devisa.
- Kebijakan moneter yang harus menyeimbangkan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menahan tekanan inflasi.
Pernyataan Kiwoom Securities
Kiwoom Securities, lembaga keuangan asal Korea Selatan, mengingatkan bahwa tekanan domestik kini semakin jelas. Analis mereka menilai bahwa tanpa intervensi yang tepat, nilai tukar Rupiah dapat terus bergerak ke arah yang lebih lemah, menambah beban pada sektor importir dan konsumen.
Dampak terhadap Perekonomian
Depresiasi Rupiah Jebol berpotensi meningkatkan biaya hidup melalui kenaikan harga barang impor, sekaligus memperbesar beban utang luar negeri yang dikonversi ke mata uang lokal. Namun, di sisi lain, eksportir dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih kompetitif.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan akan meninjau kembali kebijakan fiskal dan moneter untuk mengurangi volatilitas pasar. Langkah-langkah seperti penyesuaian suku bunga, intervensi di pasar valuta asing, atau kebijakan dukungan bagi sektor yang terdampak dapat menjadi pilihan.
Situasi ini menegaskan pentingnya pemantauan terus-menerus terhadap indikator ekonomi makro serta kebijakan yang responsif guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
