Keuangan.id – 16 Mei 2026 | Harga avtur global telah naik dua kali lipat sejak 2025, dan ini berdampak signifikan pada industri penerbangan. Pengamat penerbangan Alvin Lie memperkirakan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi bisa naik sekitar 35 persen dibandingkan sebelum perang Iran.
Kenaikan Harga Avtur
Kenaikan harga avtur disebabkan oleh lonjakan harga minyak dunia. Harga avtur saat ini sudah naik sekitar 100 persen dibandingkan sebelum perang Iran pecah. Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai, karena avtur merupakan salah satu komponen biaya terbesar.
Pertamina kembali menaikkan harga bahan bakar pesawat atau avtur per 1 Mei 2026, setelah sebelumnya pada April sempat melonjak hingga 70%. Harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta untuk periode 1–31 Mei 2026 dipatok Rp27.358 per liter, naik 16,16% dibandingkan periode 1–30 April 2026 yang sebesar Rp23.551 per liter.
Dampak pada Harga Tiket Pesawat
Kenaikan harga avtur membuat maskapai harus menyesuaikan tarif tiket pesawat. Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) mengapresiasi langkah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang telah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) Yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge).
Penyesuaian fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar dilakukan seiring harga avtur yang tinggi. Kenaikan fuel surcharge dinilai akan memungkinkan masyarakat mendapatkan harga tiket lebih fleksibel.
Ketidakpastian Penerbangan
Di tengah harga tiket pesawat yang terus menanjak, penumpang kini bukan hanya dibebani ongkos mahal, tetapi juga ketidakpastian. Banyak penumpang yang mengalami perubahan jadwal penerbangan mendadak, sehingga mereka harus selalu waspada dan memantau informasi terkini.
Fenomena serupa juga dirasakan oleh banyak penumpang, yang mulai mempertimbangkan untuk beralih menggunakan moda transportasi lain seperti shuttle atau bus. Pengalaman delay saat keberangkatan menggunakan pesawat membuat perjalanan udara tak lagi senyaman sebelumnya.
Maskapai harus mencari berbagai cara untuk menjaga keberlangsungan usaha, mulai dari penyesuaian tarif hingga konsolidasi penerbangan. Kondisi ini membuat industri penerbangan saat ini cukup berat, karena maskapai harus menghadapi lonjakan harga bahan bakar di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan turunnya minat bepergian menggunakan pesawat.
Oleh karena itu, penumpang harus selalu siap dengan kemungkinan delay atau perubahan jadwal, serta memantau informasi terkini tentang harga tiket dan jadwal penerbangan. Dengan demikian, penumpang dapat mempersiapkan diri dengan baik dan menghindari kerugian yang tidak perlu.











