Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Bank investasi global Goldman Sachs mengubah proyeksinya terkait siklus penurunan suku bunga yang dipimpin oleh Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat. Menurut analisis terbaru, Fed diperkirakan akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga pada tahun 2026.
Perubahan ini muncul setelah data inflasi dan pasar tenaga kerja menunjukkan tren pelambatan yang lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Goldman Sachs menilai bahwa tekanan inflasi akan berkurang secara signifikan pada akhir 2025, memberi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga tanpa menimbulkan risiko deflasi.
Beberapa faktor utama yang mendasari prediksi tersebut meliputi:
- Penurunan indeks harga konsumen (CPI) yang konsisten selama kuartal keempat 2025.
- Kelemahan pertumbuhan upah real yang mengindikasikan melonggarnya pasar tenaga kerja.
- Ekspektasi pasar obligasi yang menurun, mencerminkan keyakinan investor terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Jika Fed memang melakukan dua pemotongan suku bunga pada 2026, dampaknya dapat dirasakan secara global, termasuk di pasar Indonesia. Nilai tukar rupiah diperkirakan akan tertekan sedikit karena aliran modal kembali ke Amerika Serikat, sementara sektor perbankan domestik dapat menikmati biaya dana yang lebih rendah.
Analisis Goldman Sachs juga menyoroti potensi risiko, seperti kemungkinan gangguan geopolitik atau kejutan inflasi yang dapat memaksa Fed untuk menunda atau mengurangi intensitas penurunan suku bunga.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk memantau rilis data ekonomi utama, termasuk laporan inflasi CPI, data pasar tenaga kerja, serta pernyataan kebijakan Fed yang dijadwalkan pada setiap kuartal. Pergerakan suku bunga Fed tetap menjadi faktor kunci yang memengaruhi kebijakan moneter di Indonesia dan strategi investasi di kawasan Asia‑Pasifik.











