Keuangan.id – 13 Mei 2026 | Selat Hormuz nyaris tertutup bagi lalu lintas komersial, sementara ancaman serangan-serangan baru terhadap kapal-kapal di Laut Merah terus membayangi. Kini, sebuah krisis ketiga mulai mendidih: kebangkitan kembali pembajakan di lepas pantai Somalia.
Sebelum eskalasi terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meledak, sekitar separuh kapal yang menuju Eropa dari Asia dan Teluk telah menghindari Laut Merah dan Terusan Suez akibat serangan-serangan sebelumnya yang dilancarkan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dihadapkan pada ancaman serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden, perusahaan-perusahaan pelayaran besar memilih jalan memutar panjang mengitari Afrika bagian selatan.
Pengalihan jalur ini menambahkan dua hingga tiga pekan serta ribuan mil laut perjalanan laut, membawa kapal-kapal melintasi pesisir Somalia — perairan yang dahulu menjadi panggung pembajakan para perompak Somalia yang mencapai puncaknya pada tahun 2011.
Sejak saat itu, insiden-insiden sporadis terus dilaporkan. Hamparan laut itu kini menyaksikan pembajakan yang kembali terjadi dengan ganas: tiga kapal dibajak di lepas Somalia dan Yaman dalam tiga pekan terakhir saja.
Hingga tanggal 8 Mei 2026, kapal tanker minyak Honour 25 dan Eureka serta kapal kargo Sward masih berada di bawah kendali para perompak.
Para ahli meyakini bahwa kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi di Somalia tengah memanfaatkan perang Iran untuk melancarkan pembajakan, sementara patroli-patroli angkatan laut internasional yang pertama kali dikerahkan pada tahun 2008 untuk melawan para perompak kini terkuras oleh peristiwa-peristiwa di sekitar Hormuz dan Laut Merah.
Peneliti senior untuk ancaman transnasional dan kejahatan terorganisasi di Institute for Security Studies, Tim Walker mengatakan bahwa para perompak kini melihat semakin sedikit daya tangkal di sepanjang garis pantai Somalia yang membentang sejauh 3.300 kilometer — garis pantai terpanjang di seluruh daratan Afrika.
"Sebagian kelompok, yang diorganisasi oleh … para gembong pembajakan, kini berupaya merebut kapal-kapal dan menahan mereka demi uang tebusan, bersama para awak di dalamnya — kadang-kadang menuntut tebusan yang sangat tinggi demi pemulangan mereka dengan selamat," ujar Walker.
Krisis ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi pelayaran dunia, karena pembajakan di lepas pantai Somalia dapat memicu kenaikan biaya pengiriman dan membahayakan keselamatan awak kapal.
Oleh karena itu, diperlukan tindakan cepat dan efektif dari komunitas internasional untuk mengatasi krisis ini dan mencegah pembajakan di lepas pantai Somalia.
Dengan demikian, penting bagi kita untuk memantau situasi ini dengan cermat dan mendukung upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi krisis pembajakan di lepas pantai Somalia.
