Keuangan.id – 04 April 2026 | JAKARTA – Legenda hidup kiper Italia, Gianluigi Buffon, mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Kepala Delegasi Tim Nasional Italia pada Kamis (2/4) malam WIB. Keputusan tersebut diambil tak lama setelah Gabriele Gravina, Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), mengumumkan pengunduran diri dari posisinya.
Latihan Akhir yang Berujung Penyesalan
Italia gagal mengamankan tiket Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis dalam adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di babak play‑off zona Eropa. Pertandingan berakhir imbang 1‑1 setelah perpanjangan waktu, namun Italia kehilangan kesempatan ketika Esmir Bajraktarevic mengeksekusi tendangan penalti terakhir dengan sukses, menjadikan Bosnia melaju ke turnamen dunia.
Selain kegagalan di tendangan penalti, tim Azzurri juga harus menelan kartu merah langsung untuk Alessandro Bastoni pada menit ke‑41. Kejadian tersebut merusak keseimbangan pertahanan Italia dan menjadi salah satu faktor kunci yang memicu kegagalan.
Pengunduran Diri Buffon: Tanggung Jawab Moral
Dalam sebuah unggahan Instagram pribadi, Buffon menuliskan, “Mengundurkan diri semenit setelah pertandingan melawan Bosnia berakhir adalah tindakan mendesak yang datang dari lubuk hati saya. Air mata dan rasa sakit yang saya rasakan bersama kalian semua tak dapat dipisahkan.” Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah menunggu pengunduran diri Gravina, yang membuka ruang baginya untuk bertindak.
Buffon menegaskan, “Meskipun saya sangat percaya bahwa kami telah membangun semangat tim dan kekompakan bersama Rino Gattuso serta kolaborator lainnya, tujuan utama kami—membawa Italia kembali ke Piala Dunia—tidak tercapai. Oleh karena itu, saya merasa harus memberi ruang bagi generasi baru yang lebih tepat untuk memimpin delegasi.”
Jejak Gravina: Langkah Serupa di Puncak Krisis
Gabriele Gravina mengundurkan diri beberapa jam sebelum Buffon mengumumkan keputusannya. Gravina, yang memimpin FIGC sejak 2018 dan pernah membawa Italia meraih gelar Euro 2020, menyatakan bahwa ia mengakhiri masa jabatan setelah menilai kegagalan berulang dalam kualifikasi Piala Dunia (2018, 2022, dan kini 2026) tidak dapat diabaikan.
Pengunduran diri Gravina membuka agenda pemilihan presiden baru yang dijadwalkan pada Juni mendatang. Di antara calon yang muncul adalah Giovanni Malago, mantan presiden CONI, yang dianggap memiliki pengalaman mengelola organisasi olahraga berskala besar.
Dampak Lebih Luas: Kritik Publik dan Tantangan UEFA
Kegagalan Italia menambah catatan kelam dalam sejarah timnas, yang sebelumnya pernah absen pada edisi 2018 dan 2022. Publik Italia menuntut reformasi struktural dalam pembinaan pemain muda serta peningkatan infrastruktur liga domestik. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, bahkan memperingatkan bahwa kesiapan Italia sebagai co‑host Euro 2032 dapat terancam jika tidak ada perbaikan signifikan.
Selain itu, isu penempatan tiket Piala Dunia bagi tim yang menggantikan Iran menimbulkan perdebatan tentang keadilan kompetisi. Beberapa pengamat berpendapat bahwa FIFA seharusnya memberikan kesempatan kepada tim Asia lain yang berada di grup yang sama dengan Iran, bukan memberi ‘tiket belas kasihan’ kepada Italia.
Warisan Buffon di Piala Dunia
Buffon, yang berusia 48 tahun, menutup kariernya di level delegasi setelah lebih dari dua dekade berkontribusi pada timnas. Karier internasionalnya dimulai pada 1997, menjadi kiper utama pada Piala Dunia 2002, dan mengantarkan Italia meraih gelar juara dunia 2006 setelah menghalau serangan Prancis dalam adu penalti final.
Selama menjabat sebagai Kepala Delegasi, ia berperan sebagai penghubung antara pemain muda U‑21 dan tim senior, serta berupaya menyiapkan generasi penerus. Namun, kegagalan beruntun membuatnya menilai bahwa perubahan kepemimpinan adalah langkah paling bertanggung jawab.
Buffon menutup pesan perpisahannya dengan harapan bahwa pengganti yang tepat akan muncul, menegaskan bahwa representasi Timnas Italia adalah kehormatan yang telah menjadi gairahnya sejak masa kecil.
Dengan dua tokoh penting Italia—Gravina dan Buffon—sudah mengundurkan diri, federasi kini berada pada titik kritis untuk merumuskan strategi baru, memperbaiki sistem pembinaan, dan mengembalikan kejayaan Italia di panggung dunia.
