Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Gianluigi Buffon, sosok yang telah menjadi simbol kehebatan kiper Italia, masih menjadi sorotan utama meski usianya telah melampaui batas kebanyakan pemain profesional. Pada usia 45 tahun, sang legenda tetap menampilkan performa impresif bersama Lazio, klub Serie A tempat ia menghabiskan sebagian besar masa jayanya setelah meninggalkan Juventus.
Karier Gemilang yang Tak Terbantahkan
Buffon memulai debutnya di level senior bersama Parma pada akhir 1990-an, dan dalam hitungan tahun ia sudah menjadi pilihan utama timnas Italia. Ia membantu Italia memenangkan Piala Dunia 2006, sekaligus mencatat rekor penampilan terbanyak bagi seorang kiper di level internasional. Selama dua dekade, ia beralih ke Juventus, meraih sembilan gelar Serie A, lima Coppa Italia, dan dua trofi Liga Champions.
Lazio: Babak Baru yang Membumi
Setelah menandatangani kontrak dengan Lazio pada 2018, Buffon tidak hanya menjadi pemain inti, melainkan juga figur kebanggaan bagi suporter. Pada pertandingan terakhir musim 2023/2024, ia menerima pujian dari tokoh penting klub, termasuk presiden dan pelatih, yang menyoroti sikap rendah hati dan etos kerja sang kiper.
Meski telah melewati masa kejayaan, Buffon tetap menunjukkan konsistensi dalam menjaga gawang, mencetak beberapa penyelamatan krusial yang membantu Lazio meraih poin penting dalam perebutan posisi tengah klasemen. Sikapnya yang selalu membumi menjadi contoh bagi generasi muda, menegaskan bahwa keberhasilan tidak menghalangi rasa bersyukur.
Peran di Luar Lapangan
Selain kontribusi di atas lapangan, Buffon aktif dalam dialog seputar kebijakan sepakbola Italia. Baru-baru ini, ia bersama badan pelatih dan pemain Serie A memberikan dukungan kuat terhadap Francesco Malago, yang baru diangkat sebagai ketua baru Federasi Sepakbola Italia (FA). Dukungan tersebut menandakan kepercayaan komunitas sepakbola terhadap visi reformasi dan transparansi yang dibawa oleh Malago.
Buffon menegaskan pentingnya kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan pemain dan pelatih, serta menolak praktik korupsi yang masih mengintai dunia sepakbola. Pernyataannya menambah bobot suara veteran dalam proses perubahan struktural.
Pengaruh Budaya dan Legacy
Pengaruh Buffon melampaui statistik. Ia menjadi ikon sportivitas, selalu menampilkan sikap hormat kepada lawan, wasit, dan penggemar. Kerap terlihat menengok tribun untuk berterima kasih setelah pertandingan, ia menginspirasi banyak anak muda di Italia dan Asia untuk mengejar impian menjadi kiper profesional.
Selain itu, Buffon aktif dalam kegiatan sosial, termasuk program beasiswa bagi anak-anak kurang mampu dan kampanye anti-kekerasan di lingkungan sekolah. Keterlibatannya menegaskan bahwa seorang atlet dapat menjadi agen perubahan positif.
Prospek Kedepan
Dengan kontrak yang masih berlaku hingga 2025, Buffon tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan kariernya di Serie A atau bahkan mencoba tantangan di luar Italia. Namun, ia juga menyatakan keinginannya untuk terjun ke dunia kepelatihan atau manajemen klub setelah menggantungkan sepatu.
Apapun keputusan yang diambil, warisan Gianluigi Buffon sebagai kiper terhebat dalam sejarah sepakbola modern sudah terukir kuat. Semangatnya yang membumi, kepemimpinan dalam isu kebijakan, serta kontribusi sosial menjadikannya figur yang tidak hanya dikenang lewat trofi, namun juga lewat nilai-nilai kemanusiaan yang ia bawa.
