Berita  

Gen Z: Dari Bertahan di Dunia Kerja Toxic hingga Menjadi Petani Urban di Jakarta Utara

Gen Z: Dari Bertahan di Dunia Kerja Toxic hingga Menjadi Petani Urban di Jakarta Utara
Gen Z: Dari Bertahan di Dunia Kerja Toxic hingga Menjadi Petani Urban di Jakarta Utara

Keuangan.id – 30 April 2026 | Generasi Z (Gen Z) kini menjadi sorotan utama dalam beragam bidang kehidupan, mulai dari dinamika tempat kerja yang menantang hingga inovasi pertanian perkotaan yang mengubah wajah kota. Berbagai fenomena ini memperlihatkan bagaimana generasi muda menyeimbangkan ambisi karier dengan kebutuhan kesehatan mental dan kontribusi sosial.

Tekanan di Dunia Kerja yang Toxic

Film The Devil Wears Prada menampilkan karakter Andrea Sachs (Andy) sebagai contoh klasik perjuangan seorang fresh graduate yang harus menyesuaikan diri dengan tuntutan tinggi, bos yang toxic, dan budaya kompetitif. Bagi Gen Z, tekanan serupa muncul dalam realitas kerja modern. Penelitian yang dipublikasikan di ResearchGate mengungkap bahwa pekerja Gen Z mengalami tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan kerja yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Penyebab utama meliputi tekanan finansial, keseimbangan kerja‑hidup yang tidak memadai, manajemen yang buruk, serta rasa kesepian dalam pekerjaan jarak jauh.

Untuk mengatasi hal ini, para ahli menyarankan penetapan batasan yang tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Praktik sederhana seperti membatasi komunikasi di luar jam kerja, menolak beban kerja yang tidak realistis, dan menghindari kebutuhan untuk menyenangkan semua orang dapat mengurangi beban mental. Data menunjukkan bahwa 78 % Gen Z lebih memilih perusahaan yang peduli pada kesehatan mental, menuntut rasa hormat, fleksibilitas, serta dukungan tulus.

Urban Farming: Solusi Positif di Tengah Kota

Di Jakarta Utara, sekelompok pemuda Gen Z telah mengubah sudut gang yang dulu menjadi ajang tawuran menjadi lahan urban farming seluas 1,5 hektare bernama Bangun Karya Mandiri. Fajar Aryanto, seorang remaja berusia 15 tahun, mengaku berhenti dari kegiatan tawuran setelah terlibat dalam kebun bersama teman‑temannya. Aktivitas menanam, menyiram, dan merawat sayuran seperti kangkung, kemangi, dan cabai tidak hanya memberikan rasa pencapaian, tetapi juga menambah uang jajan tambahan.

Urban farming ini menjadi sarana pembelajaran praktis, memperkuat ikatan sosial, dan menawarkan alternatif produktif bagi Gen Z yang sebelumnya terjebak dalam perilaku destruktif. Meskipun penghasilan tidak stabil, manfaat psikologis dan kebersamaan yang tercipta dianggap lebih berharga.

Quiet Covering: Menyembunyikan Identitas di Tempat Kerja

Fenomena baru bernama “quiet covering” semakin meluas di kalangan pekerja muda. Istilah ini mengacu pada upaya menyembunyikan bagian identitas pribadi—seperti latar belakang budaya, orientasi, atau kondisi kesehatan—agar dapat diterima secara profesional. Survei terhadap 2.000 karyawan menemukan bahwa 58 % menyembunyikan kekurangan keterampilan, sementara 40 % enggan meminta bantuan meski bingung.

Motivasi utama meliputi menjaga citra profesional (55 %), mencari penerimaan sosial (48 %), dan menghindari diskriminasi (46 %). Praktik ini dapat berujung pada kelelahan emosional, yang kemudian disebut “quiet cracking”—suatu bentuk burnout yang halus namun merusak produktivitas.

Perbandingan dengan Gen X: Keterampilan yang Hilang

Berbeda dengan Generasi X yang tumbuh tanpa internet dan belajar mandiri sejak dini, Gen Z dibesarkan dalam dunia digital yang menawarkan kemudahan instan. Tujuh kebiasaan Gen X—menikmati waktu sendirian, berani menghadapi percakapan sulit, memperbaiki barang, mengatur waktu antara tugas dan pekerjaan rumah, serta menunggu tanpa hiburan instan—jarang ditemui di kalangan Gen Z. Perbedaan ini menimbulkan tantangan baru dalam membangun ketahanan mental dan kemandirian.

Upaya Membentuk Lingkungan yang Lebih Sehat

Berbagai pihak menyarankan langkah konkret: perusahaan perlu menyediakan program kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta ruang untuk keaslian identitas. Di sisi lain, Gen Z dapat memperkuat jaringan dukungan sosial, baik di dalam maupun di luar tempat kerja, karena studi menunjukkan 73 % mereka merasa kesehatan mental meningkat ketika menghabiskan waktu bersama teman secara langsung.

Transformasi ini menuntut sinergi antara kebijakan perusahaan, peran keluarga, dan inisiatif komunitas untuk menciptakan ekosistem yang tidak hanya produktif tetapi juga manusiawi.

Secara keseluruhan, Gen Z menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa—dari bertahan dalam lingkungan kerja yang toxic hingga mengubah ruang kota menjadi kebun produktif, sambil tetap menjaga identitas pribadi di tengah tekanan sosial. Perubahan ini membuka peluang bagi generasi selanjutnya untuk menata kembali standar kerja, kesejahteraan, dan kontribusi sosial di Indonesia.

Exit mobile version