Keuangan.id – 06 April 2026 | Pada Kamis, 2 April 2026, wilayah barat daya pantai Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, serta perairan sekitar Bitung, Sulawesi Utara, diguncang gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6. Gempa utama tersebut menimbulkan kerusakan pada bangunan publik dan rumah tinggal, sekaligus memicu serangkaian gempa susulan yang berlangsung selama beberapa hari berikutnya.
Latar Belakang Gempa Utama
Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Manado menunjukkan bahwa episenter gempa terletak pada koordinat 1,25° lintang utara dan 126,27° bujur timur, tepatnya 129 kilometer tenggara Bitung pada kedalaman 33 kilometer. Gempa ini merupakan peristiwa tektonik besar yang melepaskan energi secara tiba-tiba, menggeser bidang patahan dan mengubah distribusi tegangan di kerak bumi.
Statistik Gempa Susulan
Sejak gempa utama, BMKG mencatat total 960 gempa susulan dengan magnitudo bervariasi. Dari total tersebut, 22 kali gempa susulan dirasakan secara langsung oleh masyarakat di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara hingga Minggu, 5 April 2026 pukul 11:48 WIB. Selama periode 48 jam pertama setelah gempa utama, sebanyak 48 gempa susulan tercatat, menandai fase intensif aktivitas seismik yang biasanya terjadi pada fase awal pasca‑gempa besar.
Berikut ringkasan data gempa susulan yang paling signifikan:
- Total gempa susulan terdeteksi: 960 kali.
- Gempa susulan yang dirasakan masyarakat: 22 kali.
- Jumlah gempa susulan dalam 48 jam pertama: 48 kali.
- Magnitudo terbesar di antara susulan: M4,2 (diperkirakan).
- Rata‑rata magnitudo susulan: antara M2,0–M3,5.
Fenomena ini konsisten dengan pola umum yang dijelaskan oleh Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, Muhammad Zulkifli, bahwa gempa susulan biasanya memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa utama dan frekuensinya menurun secara bertahap seiring waktu.
Dampak pada Masyarakat dan Infrastruktur
Kerusakan paling mencolok terlihat pada gedung KONI Manado dan beberapa rumah warga di Kelurahan Gambersi, Ternate. Laporan lapangan menyebutkan retakan pada dinding, kerusakan atap, serta beberapa struktur yang mengalami penurunan stabilitas. Meskipun sebagian besar bangunan tetap aman, rasa khawatir warga tetap tinggi karena gempa susulan terus terjadi.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama BMKG telah mengirimkan tim ahli untuk melakukan survei kerusakan, sekaligus mendistribusikan bantuan darurat berupa makanan ringan, selimut, dan perlengkapan medis kepada keluarga yang terdampak. Tim juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan, terutama pada malam hari ketika gempa susulan cenderung lebih terasa.
Penyebab dan Penjelasan Teknis
Gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah terjadinya pergeseran besar pada bidang patahan. Energi yang tersisa setelah gempa utama dilepaskan secara bertahap, menyebabkan mikro‑pergeseran yang menghasilkan gempa berukuran lebih kecil. Proses ini menandakan bahwa kerak bumi sedang berupaya mencapai kembali kondisi keseimbangan tegangan.
Menurut penjelasan Zulkifli, “Gempa susulan umumnya memiliki magnitudo yang lebih kecil dibandingkan gempa utama dan dapat terjadi dalam jumlah yang cukup banyak pada fase awal, kemudian frekuensinya akan berangsur menurun seiring waktu.” Pernyataan ini memperkuat pemahaman ilmiah bahwa gempa susulan adalah fenomena alami yang tidak dapat dihindari, namun dapat dipantau secara intensif dengan jaringan seismometer yang dimiliki BMKG.
Tindakan Lanjutan dan Prediksi
BMKG berkomitmen untuk terus memantau aktivitas seismik di wilayah Sulut‑Malut selama minggu-minggu mendatang. Tim ilmuwan akan memperbaharui model distribusi tegangan dan mempublikasikan perkiraan potensi gempa susulan selanjutnya. Masyarakat diminta untuk tetap waspada, mengikuti instruksi evakuasi bila diperlukan, serta mengamankan barang‑barang berat di dalam rumah.
Secara keseluruhan, meskipun gempa utama M7,6 menimbulkan kerusakan signifikan, respons cepat dari lembaga penanggulangan bencana dan pemantauan intensif terhadap gempa susulan memberikan gambaran bahwa sistem penanganan bencana di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang proses penyesuaian kerak bumi, diharapkan risiko kerusakan lebih lanjut dapat diminimalkan.











