Keuangan.id – 10 Maret 2026 | Ketegangan yang kembali menggelora di Timur Tengah, khususnya penutupan Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga US$118 per barel. Dampak langsungnya terasa di pasar domestik Indonesia, di mana harga BBM terus menguji daya beli masyarakat. Menanggapi krisis energi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mempercepat kebijakan campuran bioetanol (E20) dan biodiesel (B50), sekaligus membuka peluang bagi bahan bakar alternatif berbasis jerami yang dikenal dengan nama Bobibos.
Gejolak Timur Tengah dan Dampaknya pada Harga BBM
Penutupan sementara Selat Hormuz—jalur utama transportasi minyak dunia—menyebabkan gangguan pasokan yang signifikan. Harga minyak mentah dunia melambung di atas US$100 per barel, memaksa pemerintah Indonesia mencari solusi untuk menstabilkan harga BBM dalam negeri. Bahlil menegaskan, “Kalau harga minyak fosil bisa melampaui 100 dolar AS per barel, maka itu akan lebih murah kalau kita blending (campur).” Kebijakan mandatori E20 yang semula dijadwalkan mulai 2028 kini dipercepat agar dapat meredam dampak impor bensin yang meningkat.
Kebijakan Bioetanol dan Biodiesel Bahlil
Selain E20, Bahlil menargetkan pelaksanaan B50—campuran 50% solar dan 50% bahan bakar nabati (BBN) berbasis kelapa sawit. Saat ini Indonesia mengoperasikan mandatori B40, namun peningkatan ke B50 masih dalam kajian. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor, menghemat anggaran negara, serta menurunkan emisi karbon. Namun, kebijakan tersebut secara eksplisit menyebutkan bahan baku sawit, tebu, dan aren, meninggalkan potensi jerami sebagai sumber energi terbarukan.
Bobibos: Potensi Jerami sebagai Bahan Bakar Alternatif
Bobibos (BOBIBOS – Pembina Bahan Bakar Original Buatan Indonesia) adalah inisiatif yang mengolah jerami menjadi dua varian bahan bakar: bensin dan solar. Menurut Mulyadi, anggota DPR Komisi V Fraksi Gerindra, jerami belum mendapat ruang dalam regulasi energi karena mandatori transisi energi hanya mengakomodasi sawit, tebu, dan aren. “Jika tidak ada proteksi, jadi RIP (mati) beneran bisnis Bobibos,” ujarnya.
Potensi produksi jerami di Indonesia sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat luas lahan pertanian sekitar 11 juta hektare. Dengan asumsi satu hektare jerami dapat menghasilkan 2.000 liter bahan bakar, 5 juta hektare saja berpotensi menghasilkan 10 miliar liter Bobibos. Hal ini tidak hanya dapat menambah pasokan energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani tanpa harus membuka lahan baru.
Enam Manfaat Strategis Bobibos
- Masyarakat memperoleh bahan bakar yang lebih murah dan berkualitas.
- Petani meningkatkan pendapatan melalui penjualan jerami.
- Anggaran negara menghemat biaya impor BBM.
- Emisi karbon menurun karena bahan bakar nabati hampir nol emisi.
- Indonesia memperkuat kemandirian energi nasional.
- Penciptaan lapangan kerja baru di sektor produksi dan distribusi.
Langkah Selanjutnya dan Tantangan Regulasi
Bobibos kini tengah menyiapkan peluncuran di Timor Leste sebagai pasar percontohan, sementara menunggu regulasi domestik yang meliputi izin produksi, insentif investasi, dan proteksi pasar (RIP). Mulyadi menekankan pentingnya regulasi yang jelas agar Bobibos dapat bersaing tanpa mengganggu bisnis BBM konvensional. “Kami siap, yang kami butuhkan regulasi, investasi, dan proteksi,” tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah harus menyeimbangkan antara dukungan terhadap industri kelapa sawit—sebagai bahan bakar utama E20 dan B50—dengan membuka peluang bagi bahan bakar berbasis jerami. Integrasi Bobibos ke dalam kebijakan energi nasional dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi volatilitas harga BBM yang dipicu oleh gejolak geopolitik.
Dengan harga minyak dunia yang terus tidak stabil, kebijakan bioetanol dan biodiesel menjadi landasan penting, namun diversifikasi sumber energi melalui Bobibos dapat menjadi pelengkap yang vital. Pemerintah, industri, dan akademisi diharapkan bersinergi dalam menyusun regulasi yang memungkinkan produksi massal, distribusi yang efisien, serta jaminan kualitas bahan bakar jerami.
Jika regulasi dan investasi terpenuhi, Bobibos berpotensi menjadi alternatif yang tidak hanya menurunkan beban biaya BBM bagi konsumen, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.











