Keuangan.id – 13 April 2026 | Produsen otomotif asal Tiongkok, Geely, baru-baru ini menyoroti tantangan utama kendaraan listrik (EV) yang berhubungan dengan berat baterai lithium. Menurut pihak perusahaan, berat baterai yang signifikan dapat mengurangi efisiensi keseluruhan kendaraan serta menambah konsumsi energi pada fase produksi.
Sebagai respons, Geely mengusulkan penggunaan kendaraan berbasis metanol sebagai alternatif yang lebih ringan dan potensial dalam menurunkan emisi. Metanol, yang dapat diproduksi dari sumber biomassa atau proses kimia konvensional, menawarkan densitas energi yang kompetitif dengan bobot yang lebih rendah dibandingkan paket baterai lithium‑ion tradisional.
Perbandingan teknis antara baterai lithium‑ion dan motor metanol
| Parameter | Baterai Lithium‑Ion | Motor Metanol |
|---|---|---|
| Densitas energi (Wh/kg) | 150‑250 | ≈200‑300 (setara energi kimia) |
| Berat per kWh | ≈6‑8 kg | ≈2‑3 kg (sistem penyimpanan) |
| Waktu pengisian / pengisian ulang | 30‑60 menit (fast‑charge) | ≤5 menit (pengisian bahan bakar) |
| Emisi CO₂ selama penggunaan | 0 (langsung), tergantung produksi listrik | Bervariasi, tergantung sumber metanol |
Keunggulan utama yang ditekankan Geely meliputi penurunan berat kendaraan, pengisian ulang yang lebih cepat, serta fleksibilitas dalam penggunaan infrastruktur bahan bakar yang sudah ada. Perusahaan mencatat bahwa kendaraan berbahan bakar metanol dapat menempuh jarak yang setara dengan EV pada beban yang lebih ringan, sehingga meningkatkan rasio energi‑to‑massa.
Geely juga menyoroti aspek biaya. Produksi baterai lithium‑ion masih memerlukan material langka seperti kobalt dan nikel, yang berfluktuasi harganya di pasar internasional. Sebaliknya, metanol dapat diproduksi dengan bahan baku yang lebih melimpah dan memiliki rantai pasokan yang lebih stabil, berpotensi menurunkan total biaya kepemilikan kendaraan bagi konsumen.
Namun, transisi ke teknologi metanol tidak serta‑merta menghilangkan tantangan lingkungan. Metanol tetap menghasilkan emisi CO₂ ketika dibakar, meskipun intensitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan bensin konvensional. Geely menekankan pentingnya mengembangkan metanol hijau—yang diproduksi dari sumber terbarukan—sebagai langkah lanjutan untuk menekan jejak karbon.
Dengan menempatkan fokus pada kendaraan ringan dan efisien, Geely berharap dapat memperluas portofolio produk yang lebih beragam, menjawab kebutuhan pasar yang semakin sensitif terhadap harga bahan bakar dan regulasi emisi. Strategi ini selaras dengan tren global yang mengarah pada diversifikasi sumber energi dalam industri otomotif.











