Emas Kembali Tersungkur Lebih Dua Persen, Ini Penyebabnya

Emas Kembali Tersungkur Lebih Dua Persen, Ini Penyebabnya
Emas Kembali Tersungkur Lebih Dua Persen, Ini Penyebabnya

Keuangan.id – 04 April 2026 | Harga emas mengalami penurunan tajam lebih dari dua persen dalam sesi perdagangan terbaru, menandakan pergeseran sentimen pasar dari sekadar mencari perlindungan (safe haven) ke preferensi terhadap dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang memengaruhi permintaan dan penawaran logam mulia tersebut.

Berikut adalah faktor-faktor utama yang menjadi penyebab penurunan harga emas:

  • Dolar AS menguat signifikan: Penguatan dolar memicu penurunan harga emas karena keduanya memiliki hubungan terbalik. Investor cenderung menjual emas untuk membeli aset berbasis dolar yang lebih menguntungkan.
  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah: Eskalasi konflik antara Iran dan sekutunya meningkatkan ketidakpastian pasar, namun pada saat yang sama menurunkan daya tarik emas sebagai aset safe haven karena aliran dana beralih ke dolar yang dipandang lebih likuid.
  • Ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve: Pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih cepat, yang menurunkan daya tarik emas yang tidak memberikan hasil bunga.
  • Profit taking oleh pelaku pasar: Setelah kenaikan harga yang stabil dalam beberapa minggu sebelumnya, sebagian investor mengambil keuntungan, menambah tekanan jual.
  • Data ekonomi global yang kuat: Rilis data ekonomi positif, terutama dari Amerika Serikat, menurunkan persepsi risiko dan mengalihkan aliran dana ke aset berbasis dolar.

Secara teknis, grafik harga emas menunjukkan level support penting di sekitar US$1.920 per ons, sementara resistance pertama terletak di US$1.970. Jika tekanan jual berlanjut, level support selanjutnya berada di US$1.880.

Para analis memperkirakan bahwa pergerakan harga emas akan tetap sensitif terhadap pergerakan dolar serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama dolar tetap kuat dan konflik tidak mereda, kemungkinan emas akan tetap berada di zona tekanan jual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *