Keuangan.id – 08 April 2026 | Sejumlah analis menyoroti bahwa ekonomi Indonesia kini berada di tengah tekanan eksternal yang intens, khususnya dalam dua bidang utama: energi dan aliran keluar modal. Seorang profesor ekonomi terkemuka menegaskan bahwa kondisi ini merupakan yang terburuk dalam dua dekade terakhir.
Tekanan energi muncul dari kenaikan harga minyak dunia, gangguan rantai pasokan, serta transisi cepat menuju energi terbarukan yang menuntut investasi besar. Di sisi lain, arus keluar modal dipicu oleh kebijakan moneter yang lebih ketat di negara maju, peningkatan suku bunga, serta ketidakpastian geopolitik yang membuat investor mencari aset yang lebih aman.
Profesor tersebut mengidentifikasi tiga implikasi utama bagi Indonesia:
- Pembiayaan pembangunan menjadi lebih mahal karena biaya pinjaman naik di pasar internasional.
- Keseimbangan neraca perdagangan terancam bila impor energi tetap tinggi sementara ekspor tidak dapat mengimbangi.
- Stabilitas nilai tukar berisiko melemah akibat tekanan jual pada rupiah.
Untuk mengurangi risiko tersebut, beberapa langkah kebijakan disarankan, antara lain:
- Meningkatkan ketahanan energi nasional dengan mempercepat pembangunan pembangkit listrik terbarukan dan diversifikasi sumber energi.
- Memperkuat regulasi dan insentif bagi investasi domestik agar dapat menahan arus keluar modal.
- Menjaga kebijakan fiskal tetap disiplin, sambil memastikan dukungan likuiditas bagi sektor riil.
- Mengoptimalkan penggunaan cadangan devisa sebagai penyangga jangka pendek.
Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, Indonesia diharapkan dapat menavigasi tekanan global tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.











