Keuangan.id – 05 April 2026 | Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melakukan rangkaian kunjungan ke sejumlah tokoh nasional pada awal Maret hingga awal April 2026. Kunjungan ini bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan upaya menggalang dukungan Indonesia dalam kampanye anti‑perang melawan agresi Amerika Serikat‑Israel yang ditujukan pada Iran.
Perjalanan pertama Boroujerdi dimulai pada Selasa, 3 Maret 2026, ketika ia menemui Wakil Presiden ke‑10 dan ke‑12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, duta besar menekankan pentingnya persatuan umat Islam dan menyoroti penderitaan rakyat Iran yang “dizalimi oleh dua negara nuklir”. Ia meminta agar Indonesia, sebagai negara mayoritas Muslim, dapat menyuarakan penolakan terhadap aksi militer AS‑Israel.
Perjalanan Lanjutan ke Pusat Politik Indonesia
Setelah pertemuan dengan Jusuf Kalla, Boroujerdi melanjutkan kunjungan ke kediaman Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di Menteng pada 10 Maret 2026. Di sana, ia menyampaikan harapan bahwa para pemimpin Indonesia dapat menjadi perantara dalam dialog damai serta memfasilitasi upaya mediasi antara pihak‑pihak yang berseteru. “Kami mengapresiasi kesiapan pemerintah Indonesia untuk menjadi fasilitator perdamaian,” ujar Boroujerdi.
Pada Rabu, 1 April 2026, duta besar melanjutkan perjalanannya ke Solo untuk bertemu Presiden ke‑7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Diskusi berfokus pada potensi peran Indonesia dalam menengahi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Boroujerdi menegaskan bahwa dukungan moral, termasuk doa dari para ulama, dapat menjadi “suara yang wahid” dalam menghadapi musuh bersama.
Dialog dengan Tokoh Agama dan Masyarakat
Pertemuan terakhir pada 3 April 2026 melibatkan Din Syamsuddin, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, di kediamannya di Pondok Labu. Boroujerdi meminta agar ulama‑ulama di Indonesia mendoakan Iran serta menyerukan persatuan lintas aliran dalam menolak perang. “Doa dari para ulama untuk kemerdekaan bangsa saya sangatlah penting,” katanya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas ungkapan belasungkawa dan keprihatinan yang diterima selama kunjungan.
Seluruh rangkaian kunjungan ini mencerminkan strategi Iran untuk memperluas aliansi anti‑perang melalui jaringan diplomatik dan keagamaan. Boroujerdi menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya sekadar penonton, melainkan “fasilitator” yang dapat membantu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Ia mengajak umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk bersatu menentang koalisi AS‑Israel yang, menurutnya, “mengobarkan perang” demi kepentingan geopolitik.
Sejumlah analis politik menilai bahwa upaya ini sekaligus menjadi ujian bagi kebijakan luar negeri Indonesia, yang selama ini mengedepankan prinsip non‑intervensi namun aktif dalam mediasi konflik. Jika Indonesia bersedia menjadi jembatan, hal tersebut dapat meningkatkan peranannya di panggung internasional serta memperkuat citra sebagai negara yang mendukung perdamaian global.
Dengan latar belakang situasi konflik yang masih bergejolak di wilayah Iran, kunjungan Boroujerdi menjadi momen penting bagi kedua negara untuk mengevaluasi kemungkinan kerja sama strategis di bidang politik, keamanan, dan kemanusiaan. Kedepannya, apakah Indonesia akan menanggapi ajakan tersebut dengan kebijakan konkret atau tetap pada posisi netral, akan menjadi sorotan utama dalam dinamika hubungan Iran‑Indonesia serta stabilitas regional.











