Keuangan.id – 05 April 2026 | Lonjakan harga minyak dunia yang mencapai level tertinggi dalam sejarah baru-baru ini dipicu oleh eskalasi konflik militer di Iran. Kenaikan tajam ini tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga menular ke sektor-sektor lain, menambah tekanan inflasi, menurunkan indeks saham di Asia, serta memperkuat nilai dolar AS.
Sejak awal tahun, harga minyak mentah Brent melampaui US$120 per barel, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$115 per barel. Kenaikan ini menandai lonjakan terbesar sejak krisis minyak 1973, yang mencatat harga hampir US$115 per barel pada masa itu.
| Tahun | Jenis Minyak | Harga tertinggi (USD/barrel) |
|---|---|---|
| 1973 | Brent | 115 |
| 1979 | Brent | 106 |
| 2008 | WTI | 147 |
| 2022 | Brent | 123 |
| 2024 | Brent | 120+ |
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi dan transportasi, yang selanjutnya memicu kenaikan harga barang konsumsi. Di Asia, indeks saham utama seperti Nikkei, Hang Seng, dan Shanghai Composite mencatat penurunan rata-rata 2–3% dalam satu minggu setelah harga minyak menembus ambang US$115.
Penguatan dolar AS juga menjadi efek samping yang signifikan. Dolar menguat sekitar 1,5% terhadap keranjang mata uang utama, karena investor mencari aset safe‑haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Berikut beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah dan bank sentral untuk meredam dampak lonjakan minyak:
- Mengurangi subsidi bahan bakar dan meningkatkan tarif energi secara bertahap.
- Mendorong diversifikasi sumber energi, termasuk peningkatan investasi pada energi terbarukan.
- Menyesuaikan kebijakan moneter dengan menahan kenaikan suku bunga bila inflasi tidak terlalu tinggi.
- Menjalin kerja sama regional untuk stabilisasi pasokan minyak melalui stok strategis.
Para analis memperkirakan bahwa jika konflik di Iran tidak segera mereda, harga minyak dapat kembali naik, menambah beban inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, upaya diplomasi dan peningkatan produksi dari negara‑negara OPEC+ dapat membantu menurunkan tekanan harga dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, lonjakan minyak terbesar dalam sejarah ini menegaskan kembali betapa sensitifnya ekonomi dunia terhadap dinamika geopolitik, serta pentingnya kebijakan energi yang berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil.











