Keuangan.id – 20 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan militer ke Iran setelah menerima desakan diplomatik dari para pemimpin negara-negara Teluk. Penundaan ini dipicu kekhawatiran sekutu terhadap potensi serangan balasan Iran menggunakan drone serta rudal yang mengancam fasilitas vital.
Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa operasi militer yang sebelumnya direncanakan pada hari Selasa ditunda untuk sementara waktu. Ia menyebut keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi dan negosiasi yang melibatkan pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Menurut Trump, pembicaraan itu bertujuan mencari kesepakatan baru terkait isu keamanan kawasan dan program nuklir Iran. Meski menunda operasi militer, Trump tetap menegaskan bahwa militer AS siap melancarkan serangan jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengancam akan ada pertumpahan darah jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berani menyerang negaranya. Dalam pernyataan di media sosial X, Diaz-Canel menyatakan bakal ada konsekuensi tak terhitung apabila Washington meluncurkan serangan militer terhadap Havana.
Trump juga mengatakan bahwa kapal-kapal angkatan laut AS telah memuat rudal dan senjata lainnya dan siap berangkat. Dia bersikeras bahwa militer AS mungkin perlu menyerang Iran dengan serangan besar lainnya saat ia berupaya mencapai kesepakatan perdamaian untuk mengakhiri perang.
AS dan Israel terlibat perang melawan Iran sejak mereka menyerang Teheran pada akhir Februari 2026. Trump sejauh ini berupaya memecah kebuntuan dalam negosiasi, berjibaku mengakhiri konflik yang mengguncang Timur Tengah serta membuat harga energi melonjak.
Kedua pihak baru menggelar satu putaran pembicaraan di Pakistan, di tengah berlangsungnya gencatan senjata yang rapuh sejak April. Pada 17 Mei, kantor berita Iran Fars melaporkan bahwa Washington mengajukan daftar lima poin, yang mencakup tuntutan agar Iran hanya mempertahankan operasional satu situs nuklir, dan mentransfer persediaan uranium yang diperkaya tinggi ke Amerika.
Pada Senin, Otoritas Selat Teluk Persia atau PGSA, badan baru yang dibentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz, akan memberikan pembaruan secara real-time terkait operasi dan perkembangan di jalur air tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump melontarkan serangkaian peringatan keras kepada Iran, seusai kembali dari lawatan ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pada Minggu malam, Trump mengatakan bahwa waktu terus berjalan dan tidak akan ada yang tersisa dari Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai.
Trump menegaskan konflik dengan Iran adalah perang yang populer, dengan alasan orang-orang memahami perang ini bertujuan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, penundaan serangan ke Iran dan ancaman terhadap Kuba menimbulkan pertanyaan tentang strategi keamanan AS di bawah kepemimpinan Trump.
Penundaan serangan ke Iran dan ancaman terhadap Kuba menimbulkan pertanyaan tentang strategi keamanan AS di bawah kepemimpinan Trump. Apakah strategi ini akan efektif dalam mengatasi ancaman keamanan di Timur Tengah dan Amerika Latin? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini.











